38 Gunung untuk 38 Tahun Stapala

Pendakian menuju Gunung Raung pun telah usai, kami pun akan melanjutkan perjalanan kami untuk menuju gunung selanjutnya. Kali ini kami akan memijakkan kaki menuju puncak tertinggi Jawa Barat yaitu puncak Gunung Ciremai. Gunung Ciremai yang memiliki ketinggian 3.078mdpl, akan menjadi tantangan selanjutnya bagi para pendaki di program 38 gunung untuk 38 tahun Stapala ini. Perjalanan ini dilaksanakan oleh 6 orang yang terdiri dari 3 orang siswa diklat Stapala yaitu Altarino “Beruk”, Arie “Gemak”, dan Imanishi “Pleci” dengan 3 orang anggota dari divisi Gunung Hutan sendiri yaitu Anggi “Enol”, Fiki “Jebul”, dan Silvia “Lompoh”. Dengan misi tambahan yang dibawa oleh para anggota perjalanan yaitu operasi bersih di titik-titik lokasi jalur pendakian, membuat para anggota bertambah semangat karena berharap perjalanan yang dilakukan ini juga dapat membawa manfaat.

Rencana awal, para anggota perjalanan akan menuju Kuningan tempat awal dari jalur Linggarjati berada dengan menggunakan bis yang biasa melewati gerbang belakang STAN pada pukul 7 malam, namun karena waktu persiapan yang mungkin mendesak dengan jam pulang kuliah, kami pun sedikit terlambat. pukul 7 lewat kami baru mulai menunggu di gerbang belakang STAN. Menit demi menit kami lalui, namun tak ada satu pun bis yang lewat. Sampai akhirnya kami pun menjalankan plan B untuk menaiki bis menuju Kuningan dari terminal Kampung Rambutan terlebih dahulu. Dengan keterlambatan ini pun tentu saja akan mempengaruhi jadwal yang telah ditentukan, seperti waktu istirahat yang harusnya bisa kami nikmati menjadi kami habiskan didalam perjalanan dengan mobil elf. Akhirnya kami sampai di basecamp Linggarjati ketika matahari sudah terbit. Kami tidak terlalu berlama-lama singgah di basecamp. Waktu  yang tersisa pun hanya kami gunakan untuk menyantap sarapan di warung sekitar basecamp dan kembali mempacking peralatan yang akan dibawa.

Setelah semua selesai, Perjalanan menuju Gunung Ciremai pun dimulai, dengan tidak lupa melakukan registrasi di Pos 1 Linggarjati yang tidak jauh dari basecamp. Ketika registrasi kita diharuskan mengisi beberapa kuisioner, terkhusus tentang logistik yang kami bawa serta segala sesuatu yang berpotensi menjadi sampah. Kuisioner tersebut harus diisi sedetail mungkin. Setelah selesai, perjalanan awal menuju Pos 2 pun kami lalui dengan melalui jalan aspal melewati perumahan warga, persawahan, dan mulai memasuki wilayah kaki gunung. Jalanan aspal menanjak yang sangat tinggi dan tak berhenti yang harus kita lalui, dimana disini membawa kesan sangat lucu bagi kami ketika melihat muka para anggota perjalanan lain yang terlihat sedikit kaget dengan medan permulaan ini yang masih berupa jalan beraspal namun cukup menantang karena diwarnai dengan tanjakan dan juga tikungan tajam. Hingga sampai di Pos 2 Cibunar yang tak lain merupakan kaki Gunung Ciremai yang biasa digunakan sebagai tempat camping ceria. Pos ini dipenuhi dengan pohon-pohon pinus yang tinggi yang memperindah pemandangan. Disinilah kediaman warga-warga sekitar terakhir berada.

Melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya yaitu Pos Leuweung Datar dimulai dengan jalanan mendaki yang disini kita dapat melihat pemukiman warga dari tempat yang cukup tinggi, hingga  jalan berganti menyusuri hutan yang masih cukup datar. Dalam perjalanan menuju puncak Ciremai ini, terdapat 11 pos yang akan kita lalui nantinya, dengan rencana perjalanan yaitu membagi perjalanan ini dalam 2 hari perjalanan. Dihari pertama kita memulai perjalanan dari basecamp di pagi hari menuju Pos Sangga Buana 1 dengan target tiba disana sekitar pukul 7 malam. Lalu dilanjutkan dihari kedua dengan rencana melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit untuk summit attack, kemudian kembali basecamp Linggarjati setelah menyelesaikan summit attack. Dalam pendakian ini, jalur Linggarjati merupakan jalur yang teramai dibanding dengan jalur lainnya, tetapi juga di jalur ini dikenal sebagai jalur tersulit. Memang ada beberapa titik dalam perjalanan yang membutuhkan tenaga ekstra karena kemiringan jalur yang cukup ekstrim. Seperti di Pos Bapa Tere yang terkenal dengan tanjakannya yang ekstrim dan membutuhkan bantuan tali untuk menaiki tanjakan tersebut dalam perjalanan menuju puncak. Selanjutnya perjalanan banyak menyusuri hutan yang cukup lebat dengan medan yang menanjak yang akan terus dilalui oleh para pendaki.

Disini kita beberapa kali bertemu dengan pendaki lain yang dimana keadaan Gunung Ciremai saat itu bisa dibilang cukup ramai, yang dapat menambah keseruan kita dalam melakukan perjalanan. Tak kala kami beristirahat sejenak bersama ketika telah mencapai pos peristirahatan, membicarakan banyak hal dan berbagi logistik bersama, yang membuat capek dalam perjalanan semakin tidak terasa. Di setiap pos pun, anggota perjalanan pastinya tidak melupakan misi yang mereka bawa dalam perjalanan Gunung Ciremai ini, yaitu operasi bersih. Sehingga dalam setiap pos anggota perjalanan selalu menyempatkan waktu untuk membantu membersihkan lingkungan gunung atau pos dari sampah-sampah yang mungkin tertinggal oleh para pendaki. Setelah sweeping untuk melakukan opsih, kami pun mengumpulkannya dalam 1 trashbag dan meninggalkannya di pos tersebut, agar bisa langsung kami bawa kembali ketika turun gunung nanti dan juga agar bagi para pendaki yang baru datang dapat membuang sampahnya dengan lebih teratur.

Pos demi pos pun kami lalu, sampai akhirnya medan perjalanan semakin menanjak lagi. Setiap menemukan medan terjal yang menanjak, kami selalu mengira bawah medan tersebut merupakan medan Bapa Tere, tapi setelah melewatinya kami tau kalau tanjakan tersebut hanyalah tanjakan biasa. Sehingga dalam perjalanan kami pun selalu menanti untuk segera menemukan medan tanjakan Bapa Tere, terlebih ketika dari pos tanjakan seruni medan sudah semakin menanjak dengan tingkat kemiringan yang semakin sulit dari sebelumnya. Hingga kami sampai Pos Bapa Tere yang sebenarnya, kami kebingungan dan penuh bertanya-tanya apakah tanjakan yang kami nantikan itu telah terlewati. Ternyata tanjakan yang telah kami nanti-nanti itu berada tepat setelah pos bapa tere, berbeda dengan kata pendaki yang kami temui dalam perjalanan. Dan ternyata juga jalur alternatif di tanjakan ekstrim ini sudah tersedia, sehingga beberapa anggota memilih melewati jalur ini dan tidak merasakan tanjakan ekstrim yang paling terkenal di pendakian jalur Linggarjati tersebut.

melewati Tanjakan Bapa Tere

Kami sampai di Pos Batu Lingga saat waktu telah menunjukan pukul 06.15, lebih lama dari apa yang direncanakan. Dan melihat beberapa anggota yang meminta untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya, akhirnya dengan beberapa pertimbangan, rencana camp yang akan dilakukan di Pos Sangga Buana 1 pun digantikan menjadi di Pos Batu Lingga. Dan segeralah para anggota mendirikan tenda, memasak, dan melakukan hal lain untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan. Saat itu kondisi Pos Batu Lingga saat itu telah terisi oleh beberapa tenda yang juga akan bermalam disitu. Namun tanpa dirasa, ketika bertemu beberapa orang yang membangun tenda tepat disebelah kami, mereka adalah rombongan dari Ka Ohan salah satu senior di Stapala juga dan teman-teman kuliahnya. Tanpa disangka kami bertemu dengan mereka ketika bermalam disini tanpa diduga-duga.

Kami pun beristirahat tidak terlalu larut malam, karena kami telah merencanakan untuk summit ketika pagi sebelum matahari terbit. Namun sayang sekali, tanpa disadari para anggota telah melewati matahari terbit di kemudian hari. Rencana awal yang dibuat untuk melakukan summit pukul 4 pagi ternyata terealisasi dengan bangunnya para anggota pukul 6 pagi. Segerelah kami bersiap-siap untuk mengejar agenda summit attack kami yang telah terlewati beberapa jam. Masih ada 3 pos lagi yang masih harus kami lalui untuk menuju puncak.

Dengan membawa peralatan secukupnya kami pun berangkat menuju puncak pada pukul 7.30 WIB. Ketika menuju Pos Sangga Buana 1, terpikirkanlah oleh kami jalur yang cukup berat yang harus kami hadapi jika seandainya semalam kami melanjutkan perjalanan dari Batu Lingga, sehingga beberapa anggota akhirnya merasa beruntung. Medan yang ditempuh pun cukup berat dengan tanjakan yang cukup terjal hingga Pos Pengasingan. Menurut pendapat pribadi setelah membaca beberapa catatan perjalanan yang mengatakan tanjakan Bapa Tere merupakan medan yang paling berat tapi karena sudah terdapat jalur alternatif sehingga medan paling berat berganti menjadi medan dari Sangga Buana 2 menuju Pengasingan dan juga medan tepat sebelum puncak yang dipenuhi tanjakan bebatuan yang terjal. Tak heran medan tersebut menjadi medan terberat selama pendakian Gunung Ciremai via Linggarjati. Beruntung saja kami melewati jalur tersebut hanya dengan membawa sebagian barang bawaan.

jalur pendakian yang cukup berat

Dengan usaha yang keras, akhirnya sampailah kami di puncak Gunung Ciremai. Karena matahari yang sudah cukup tinggi, keadaan dipuncak pun memang sudah ditutupi oleh kabut dibeberapa titik. Sebenarnya dari puncak Ciremai ini kami dapat melihat pemandangan beberapa gunung disekitarnya antara lain Gunung Slamet, Sindoro, dan Sumbing yang dapat terlihat gagah dari kejauhan. Namun sayang kabut telah menutupi pemandangan tersebut. Namun, pemandangan disini tetap sangatlah indah, dengan kawah kembar khas yang dimiliki Gunung Ciremai, membuat kami puas melakukan perjalanan dan menyadari betapa cantiknya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Betapa indahnya anugerah yang Tuhan ciptakan kepada kita tentunya harus kita jaga agar anugerah ini dapat selalu dinikmati oleh generasi yang akan datang. Setelah puas berada di puncak, kami pun segera kembali menuju camp kami.

Kawah Ciremai

Karena terlalu senangnya, kami pun merayakan perjalanan dari puncak ini dengan memasak semua logistik tersisa yang kami miliki. Sehingga banyak waktu yang terbuang. Ditambah dengan keterlambatan kita dalam bangun pagi, membuat kami baru berjalan untuk kembali turun pada pukul setengah 3 sore diluar dari rencana yang telah ditetapkan. Tak lupa dalam perjalanan turun kami membawa sampah-sampah yang telah kami bereskan bersama, agar tidak terus menerus berserakan di lokasi kawasan gunung. Kami pun bergegas menuruni gunung karena mengingat hari sudah semakin sore. Dan ternyata banyak kantong sampah yang kami tinggalkan telah dibawa oleh pendaki lain yang tanpa kami minta untuk membantu misi ini sebelumnya. Sehingga kami pun percaya bahwa kesadaran akan kecintaan lingkungan dan kelestarian kebersihan masih tertanam dibeberapa pendaki. Hal tersebut juga membantu mengurangi beban kami dalam melakukan perjalanan menuruni gunung. Hujan pun sempat turun menemani perjalanan pulang kami yang menyebabkan perjalanan pulang kami harus sedikit diperlambat agar dapat berhati-hati disetiap langkah yang kami pijakkan. Ketika perjalanan malam, walaupun ada beberapa lampu penerangan yang sempat mati dalam perjalanan, kami pun akhirnya bisa sampai kembali di basecamp pukul 21.30 WIB dengan selamat. Alhamdulillah.

Itenerary Gunung Ciremai

Perjalanan

Jarak Tempuh Ketinggian Pos
Basecamp Linggarjati – Pos 1 Cibunar 25 menit 750 mdpl
Pos Cibunar – Pos Leuweung Datar 20 menit 1150 mdpl
Pos Leuweung Datar – Pos Kondang Amis 40 menit 1250 mdpl
Pos Kondang Amis – Pos Kuburan Kuda 50 menit 1450 mdpl
Pos Kuburan Kuda – Pos Pangalap 54 menit 1650 mdpl
Pos Pangalap – Pos Tanjakan Seruni 75 menit 1825 mdpl
Pos Tanjakan Seruni – Pos Bapa Tere 48 menit 2025 mdpl
Pos Bapa Tere – Pos Batu Lingga 67 menit 2200 mdpl
Pos Batu Lingga – Pos Sangga Buana 1 20 menit 2350 mdpl
Pos Sangga Buana1 – Pos Sangga Buana 2 50 menit 2500 mdpl
Pos Sangga Buana 2 – Pos Pengasinan 47 menit 2800 mdpl
Pos Pengasinan – Puncak Ciremai 54 menit 3078 mdpl
Puncak Ciremai – Pos Batu Lingga 75 menit 2200 mdpl
Pos Batu Lingga – Basecamp 405 menit

600 mdpl

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*