Catatan Perjalanan Divisi Olah Raga Arus Deras 2018

Setiap perjalanan, pasti punya banyak cerita. Seperti perjalanan Masa Bimbingan Kami, ORADers 2018. Sejak secara resmi diperbolehkan memasuki posko STAPALA setelah menyelesaikan diklat lapangan pada tanggal 1 januari 2018, dan memperoleh pembagian divisi. Transformasi kami sebagai ‘siswa diklat’ berslayer hijau menjadi anggota STAPALA berslayer merah  hanya dipisahkan MABIM dan sekat tembok Ruang Organisasi –satu-satunya ruangan di posko yang tidak boleh kami masuki. Dengan penuh semangat karena hari-hari pelantikan yang semakin dekat, kami bekerja sama untuk menyongsong masa bimbingan yang bahagia, aman, dan bermakna!

Teriakan “ORAD!”dari kak Juku –Kadiv ORAD 2017 sebagai pembimbing MABIM 2018- yang dengan gerakan tangan keatas kami jawab”CIHUYY!”, pada malam pembagian divisi, mengesahkan kami berempat belas sebagai penerus estafet kepengurusan pada divisi baru kami yaitu divisi Olah Raga Arus Deras atau yang lebih singkat disebut Orad. Pada rapat perdana pembahasan Mabim, Kak Juku mengawalinya dengan pengenalan tentang morfologi sungai, sharing perjalanan mabim tahun lalu, dan diakhiri dengan menunjuk Kalonq sebagai koordinator lapangan mabim orad 2018. Selanjutnya, atas arahan Kalonq kami dibagi menjadi beberapa seksi untuk mempersiapkan perjalanan mabim yang telah disepakati akan kami lakukan tanggal 2-4 Februari 2018.  Seksi sekretaris dipegang oleh Zeta, Radix dan Dedol sebagai bendahara, Kuro, Klon, dan Bargot sebagai Seksi Perlengkapan, Bango, Banyu, dan Orka sebagai seksi Konsumsi, Eja dan Keling sebagai seksi transportasi, serta Achal dan Waik sebagai seksi Dokumentasi. Sebelumnya, untuk persiapan fisik dan orientasi medan, kami beberapa kali melakukan OKA dengan pelampung dan helm, serta latihan dayung di empang sebelah posko dan dilanjutkan dengan latihan mengarungi danau situgintung dengan semar yang saat itu masih cukup sehat sebelum akhirnya rapuh karena terlalu banyak tambalan dan ditumpangi banyak orang untuk waktu yang cukup lama, karena berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan semar tidak bisa menemani kami mengarung ketika mabim nanti. Persiapan penting nonfisik lainnya yang seharusnya kami lakukan adalah membuat Manajemen Perjalanan (MANPER), agar dapat mengetahui apa saja perlengkapan yang dibutuhkan serta apa saja yang akan kami lakukan selama mabim beserta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ketika hari H pelaksanaan mabim tersebut. sayangnya diawal proses, karena masing-masing dari kami masih sibuk dengan UAS, kami malah melalaikan tugas pokok tersebut dan begitu UAS berakhir, fokus kami langsung kepada pencarian alat untuk mabim berdasar Manper tahun lalu. Disitulah, pengarungan darat kami yang terjal dan penuh jeram dimulai.

Jeram 1 : Mencari Alat

Berbekal Manper tahun lalu, kami pun mendata peralatan yang kami perlukan untuk persiapan mabim, dan dengan cepat berkunjung ke banyak mapala lain di sekitar kampus selain karena waktu yang sudah mendekati jadwal keberangkatan mabim, juga karena berkunjung ke mapala adalah salah satu syarat kami agar lulus mabim. Kunjungan kami ke mapala lain juga merupakan bentuk kegiatan penyambung tali persaudaraan antar mapala, yang biasanya dilanjut dengan sharing pengalaman kemapalaan, serta saling belajar untuk nantinya apabila ada yang baik dapat kita adaptasi dan aplikasikan pada kegiatan kami selanjutnya. Sebelum berkunjung, sebaiknya salah satu menghubungi kontak person mapala tujuan dan membuat janji, karena apabila tidak menghubungi terlebih dulu artinya siap dengan kejutan-kejutan yang akan terjadi selama kunjungan. Misalnya, ketika kunjungan kami ke RANITA, UIN Syarif Hidayatullah. Kami terpaksa pulang dengan tangan kosong karena posko mapala yang terkunci tanpa orang didalam, dan kami tidak memiliki kontak yang dapat kami hubungi. Atau pengalaman kunjungan kami ke MAKOPALA, Universitas Budi Luhur. Ditengah perjalanan kami diguyur hujan sehingga surat peminjaman kami basah dan ketika sampai hanya ada 4 orang di posko mereka karena anggota yang lain sedang melakukan diklat lapangan di Gunung Kencana. Biasanya kami melakukan pembagian kloter, membagi siapa yang mengunjungi mapala apa kemudian berangkat bersama dengan membawa sebuah oleh-oleh berupa surat peminjaman untuk mapala tersebut. Kami menyisipkan surat peminjaman barang untuk divisi orad ke setiap mapala bersamaan dengan surat peminjaman divisi caving, sehingga kegiatan pinjam meminjam menjadi lebih efektif dan kami bisa saling membantu antar divisi. Misalnya, ketika kami berkunjung ke mapala STIS yang bernama CHEBI, kami datang bertujuh dan di sambut sendirian oleh perwakilan dari mapala tersebut yang bernama kak Balqis. Setelah berbincang-bincang selama kurang lebih 2 jam-waktu normal stiap kunjungan, agar tidak terlalu lama dan terlalu cepat- dan disuguhi makanan, ketika pamit pulang kami memberikan ‘’oleh-oleh” tersebut dengan harapan bisa mendapat pinjaman dari STIS. Sayangnya, tidak. Begitu juga dengan Makopala, Arcadia, Mapala UI, Lawalata IPB, STMKG, dan masih banyak lagi. Tapi kami tidak menyerah, kami diberi pilihan apabila “mentok” tidak ada pinjaman dari mapala, maka kami boleh pinjam ke Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang tahun lalu juga meminjamkan perahunya untuk mabim ORAD. Sayangnya tidak lagi. Ditengah keputusasaan, Dedol yang memegang kontak mapala UI mendapat kabar bahwa mereka bisa meminjamkan salah satu perahu mereka untuk mabim kami. Kemudian PALABA meminjamkan kami pompa dan rescue rope, serta STACIA meminjamkan kami sebuah rescue rope. Alhamdulillah, satu perahu sisanya kami sepakat untuk menyewa di tempat penyewaan perahu dekat lokasi mabim kami di bogor nanti. Kenapa harus 2 perahu untuk mabim? Agar, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada salah satu perahu, masih ada satu perahu lain yang bisa menolong, begitu kata Kak Juku. Peralatan lain yang belum kami miliki adalah kamera Go-Pro. Untuk mendukung proses pendokumentasian selama kegiatan, kami akhirnya memilih untuk menyewa Go-Pro, yang karena pemiliknya adalah alumni STAN beliau memberi kami harga 200 ribu untuk total penyewaan selama 3 hari dan sudah termasuk accessorisnya, terima kasih bang! Hehehe. Pada hari H keberangkatan, ketika kami melakukan pengecekan alat ternyata ada beberapa kejutan yang sempat membuat kami bingung, kejutan pertama adalah pembatalan perahu yang akan kami pinjam dari MAPALA UI dengan alasan, mereka akan melakukan perjalanan divisi yang juga membutuhkan perahu tersebut sehingga peminjamannya di batalkan. Kejutan kedua berupa tidak adanya dry bag milik divisi orad yang terbawa divisi caving yang juga sedang melakukan mabim, padahal tanpa dry bag seharusnya kami tidak diperkenankan membawa barang-barang ke dalam perahu ketika mengarung karena ketika melewati jeram nanti dikhawatirkan barang tersebut hanyut dan malah menjadi sampah di sungai. Sedangkan, di setiap perahu dibutuhkan peralatan p3k dan makanan ringan untuk keperluan selama mengarung. Keputusan akhir, kami menyewa dua buah perahu dan mengganti dry bag dengan kresek walaupun pada akhirnya pada pengarungan pertama air mineral serta makanan ringan kami hanyut. Jadi kedepannya, untuk komunikasi harus terus dijaga, dan satu sama lain harus saling sadar mana barang miliknya, mana yang bukan.

Jeram 2 : TERANCAM (Transportasi, Cuaca, dan Camp)

Hari Jum’at 2 Februari 2018. Akhirnya hari yang kami tunggu tiba. kami sepakat berkumpul sejak pagi untuk mengawali persiapan keberangkatan dengan kegiatan Olah Kanuragan (OKA). Pukul 9 pagi Kalonq dan Klon berangkat menuju Kappa UI untuk mengambil perahu, Achal dan Banyu membeli kebutuhan konsumsi, Waik pergi mengambil kamera pinjaman, dan beberapa yang lain melakukan persiapan di posko. Sayangnya, setelah sholat dhuhur kabar tentang pembatalan pinjaman perahu membuat kami yang sudah sangat percaya diri untuk berangkat mabim menjadi kacau balau. Keputusan terakhir, kami membatalkan angkot untuk transportasi kembali ke bintaro dan mengalihkan dananya untuk biaya sewa perahu. Uang iuran awal sebesar 150.000 membengkak menjadi 200.000 per-siswa. Setelah menyiapkan pasak, packing peralatan mabim, dan barang pribadi, kami menunggu seorang saudara kami yang belum datang sejak awal persiapan mabim, karena alasan keluarga barulah setelah isya’ sang master Keling datang, dan baru pada pukul 21.20 kami berangkat dari bintaro menuju lokasi mabim dilepas oleh Papi seoorang karena penghuni posko yang lain sudah berangkat mabim terlebih dahulu. Kami menyewa sebuah angkot untuk barang-barang seperti dayung, pompa, pelampung, konsumsi, serta peralatan pribadi kami, bersama dengan Achal, Eja, Dedol, Banyu, Radix, Bango, dan Klon. Sedangkan yang lain berangkat menggunakan motor. Klon yang seminggu sebelumnya telah melakukan survey ke lokasi camp kami nanti di dekat sungai Cisadane bawah, desa Rancabungur, Bogor bersama Kalonq, Kuro, dan Kak Juku memilih duduk di depan menemani bapak supir untuk memberi tahu lokasi pemberhentian angkot ternyata malah tertidur, sehingga angkot kami sedikit ‘kebablasan’. Tapi, ketika sampai ternyata ada beberapa rombongan motor yang tertinggal dan tersesat, kami pun menunggu sembari mengeluarkan barang-barang dari angkot. Sekitar pukul 11 malam, ketika seluruh pasukan sudah lengkap, kami mendirikan tenda utama di sebuah lahan kosong di dekat jembatan, sebagaimana lokasi camp siswa mabim tahun lalu. Tiba-tiba, datang seseorang yang memperkenalkan diri sebagai pengurus karang taruna desa Rancabungur mencari Kalonq sebagai korlap untuk berbicara. Ketika kembali, Kalonq mengatakan bahwa selama 5-6 bulan setelah mabim 2017 terdapat penyerahan pengelolaan tanah tempat camp kami, dari yang dulunya bebas dipergunakan dengan berbekal surat ijin dari pengurus RT dan Pak Jimmy –pemilik tanah di sekitar kawasan camp- sekarang, apabila ada kegiatan di sekitar desa Rancabungur maka harus meminta ijin kepada pengelola karang taruna dan membayar karena di tempat tersebut nantinya akan dijadikan objek wisata arung jeram yang dikelola langsung oleh karang taruna setempat bersama dengan SAR. Malam semakin larut, dan kami semua sudah lelah dengan perubahan mendadak yang bahkan Kak Abuy dan Kak Juku pun baru mengetahui semuanya karena ternyayta ketika survey lokasi kemarin tidak ada pengurus karang taruna yang mereka temui di lokasi, sehingga kami menganggap bahwa segala sesuatunya masih sama seperti tahun lalu. Dengan cepat kami memindahkan tenda yang belum sempat jadi itu sejauh 500 meter dari tempat awalnya, menjadi lebih dekat dengan posko karang taruna. Setelah mendirikan tenda utama, tenda dapur. Kak Juku memasang hammock untuk tempatnya tertidur, namun karena kesalahan teknis, ketika di gunakan hammock tersebut malah robek dan Kak Juku pun terjatuh, Hahaha, terima kasih kak, sudah menutup malam penuh cobaan kita dengan tawa, Selamat malam Oraders, semoga besok lebih bahagia!

Pukul 4 Pagi esok harinya. Awalnya kami hanya mendengar bunyi gemericik air yang menetes diatas tenda kami, tapi karena merasa terlalu cepat untuk bangun setelah tidur selama 2-3 jam saja, kami pun tidur kembali. Dan, ketika kami harus benar-benar bangun karena air sudah masuk kedalam tenda kami setetes demi setetes, semua panik, karena diluar hujan sangat deras dan tanpa sadar kami membangun tenda di permukaan tanah yang miring, sehingga semakin deras hujan, maka akan semakin banyak air yang menggenang didalam tenda kami. Kami berupaya mencari solusi sebelum semua barang berharga, tas, baju, dan konsumsi kami basah. Kuro yang memakai ponco, langsung mencari tempat berteduh baru untuk kami di bawah jembatan, tapi sayangnya yang lain hanya membawa sebuah payung, bagian konsumsi pun bersiap untuk memasak di bawah jembatan, sedang yang lain memindahkan barang berharga ke sisi tenda yang aman, Klon membuat parit, Kak Juku dan pasukannya berusaha membuang air yang sudah menggenang di tenda dengan gelas bekas air mineral. Pagi di luar ekspektasi kami ditutup dengan sarapan nikmat dan kopi hangat di bawah jembatan sambil mengawasi aliran sungai cisadane bawah yang begitu deras, sampai-sampai banyak sampah dari hulu mengalir kebawah, bahkan kasur, batang pohon, botol aqua, dll. Dengan kondisi cuaca yang mendadak berubah seperti ini, kami memutuskan untuk membatalkan jadwal pengarungan pagi karena kondisi sungai yang terlalu berbahaya untuk di arungi –ditandai dengan banyaknya sampah yang terbawa arus-. Sekitar pukul 9 langit kembali cerah, atas saran dari pak Iis kami memutuskan pindah ke tempat kosong disisi sebrang jembatan untuk menghindari perizinan yang rumit dengan karang taruna. Sayangnya, ketika kami baru selesai pindahan, datang lagi 2 orang dari karang taruna memanggil Kalonq, Kak Juku, dan Kak Abuy, untuk berbicara. Beberapa saat setelah bernegosiasi kami mendapat kabar baik dan yang tidak. Pertama, organisasi karang taruna tersebut telah diberi kepercayaan untuk mengelola desa Rancabungur, sehingga dimanapun kami mendirikan tenda disekitar desa, maka kami akan tetap terkena biaya, Kedua, kami di beri tawaran untuk menginap di saung yang berada di dalam posko karang taruna tersebut supaya lebih aman dan  nyaman, lengkap dengan toilet, charger, serta penerangan. Ketiga, memilih tidur di Saung ataupun di Tenda kami akan tetap membayar sebesar 100 ribu per malam –dihitung sejak hari jum’at, maka kami harus mengeluarkan biaya sebesar 300 ribu- yang berhasil di nego menjadi 75ribu per malam. Dan yang terakhir, awalnya mereka tidak mengijinkan kami untuk turun ke sungai karena selain cuaca, surat perijinan yang kami bawa tidak lengkap, mereka sebagai pengelola otomatis akan menjadi penanggung jawab apabila nanti sewaktu-waktu terjadi hal diluar dugaan pada kami, sehingga mereka mengharuskan kami membuat surat pengantar dari kepolisian, dan lain-lain. Dengan segala daya dan upaya, karena semua informasi ini sangat baru, dan kami belum menyiapkan apapun untuk itu, kami diperbolehkan turun dengan syarat, membuat surat penyataan bahwa kami mengarung diluar pertanggung jawaban mereka serta ditandatangai diatas materai. Beruntung, karena lokasi mabim kami yang dekat dengan peradaban, kami membagi tugas, 4 orang mengambil Perahu sewaan dan sisanya mempersiapkan surat serta peralatan mengarung. Setelah makan siang, dan perahu yang sudah datang, kami bersiap untuk turun. Pada pengarungan pertama, Achal dan Orka tidak ikut karena menjaga barang-barang dan bertugas menghubungi odong-odong pada pukul 5 untuk menjemput siswa yang mengarung di finish. Sebelum mengarung, kami melakukan pemanasan seperti OKA dengan sudah memakai perlengkapan keselamatan yaitu helm dan pelampung, memompa perahu, dan menurunkannya ke sungai. Dengan perasaan yang bercampur aduk, kami sangat bersemangat untuk melakukan pengarungan ini.

Jeram 3 : Menghadapi ‘JERAM’ yang Sesungguhnya

Pengarungan dimulai sekitar pukul 3 sore. Dua perahu yang turun masing-masing diisi dengan 6 siswa dan 1 skipper yaitu kak Abuy dan Kak Juku. Pengarungan pertama ini menjadi pengarungan dengan arus paling deras karena volume air sungai yang naik akibat hujan. Sehingga, materi yang di sampaikan pada pengarungan ini pun disesuaikan. Untuk pertama kalinya kami melewati jeram dengan tetap melakukan dayung maju, sensasi ketika perahu kami terangkat dan terjatuh karena melewati batu diantara arus sungai yang begitu deras, berdiri di atas perahu melakukan scouting , terjebak di antara bebatuan dan dengan semangat penuh melakukan wrap –menggoyang-goyang perahu- supaya perahu kami bisa mengarung lagi, merasakan jatuh dari perahu karena jeram atau karena melakukan check safety –salah satu (biasanya skipper) meneriakan yel-yel Orad dan kemudian seluruh penumpang perahu menjatuhkan badannya ke sungai sampai helmnya menyentuh air dengan memasukan kakinya ke bagian bawah boeing untuk menjaganya agar tidak terjatuh sambil mengangkat dayung dan berteriak “cihuyy!!!” sekencang-kencangnya- untuk kemudian berjuang dengan sekuat tenaga kembali keatas perahu dengan melakukan self rescue –pull up dari sungai ke perahu- atau menunggu uluran tangan saudara yang menarik pelampung kami keatas perahu, serta senyum yang tak tertahankan setelah berhasil melewati jeram tanpa ada yang jatuh, adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami yang membuat kami lupa akan masalah-masalah kami di darat, hahaha. Sayangnya, ketika sampai di finish terjadi miskomunikasi antara Achal dengan Kang tentang lokasi penjemputan, sehingga kami baru kembali ke camp sekitar jam setengah 6 sore. Sesuai kesepakatan, malam ini kami pindah ke Saung. Sekitar pukul 7 datanglah Kak Kipli dan Kak Soang membawa oleh-oleh seperangkat lele mentah untuk kami makan, setelah makan malam dan berbincang-bincang kami melakukan evaluasi singkat untuk hari pertama ini. Agar besok kami bisa setidaknya melakukan 2-3 pengarungan, kami sepakat untuk tidak molor, pembagian siswa yang tidak turun dan memasak sejak awal, supaya pukul 7 pagi kami sudah bisa melakukan pengarungan. Siswa perempuan tidur terlebih dahulu karena besok harus memasak pukul 4 pagi, sedangkan siswa laki-laki memasak lele bakar bersama Kak Kipli dan Kak Soang. Selamat Malam!

Pagi di hari kedua, sekaligus hari terakhir kami mabim. Diawali dengan hujan gerimis sejak subuh, kami menyantap sarapan bersama dengan segelas susu hangat. Karena menunggu hujan mereda sambil memantau volume arus air sungai, kami baru turun ke bantaran sungai sekitar pukul 8 pagi. Pengarungan kali ini lebih ramai, karena Kak Wucing, Kak Warjeb, dan Kak Clurut juga ikut bergabung untuk menemani kami mengarung. Didahului dengan OKA seperti biasa, kemudian Kak Juku menjelaskan kepada kami tentang renang jeram, dan mengatakan bahwa kami semua harus mencobanya sendiri-sendiri. Kak Juku memberi contoh, awalnya dia berjalan melawan arus lewat pinggir sungai menuju tempat yang sedikit lebih tinggi, setelah merasa arusnya tepat Kak Juku masuk kedalam arus tersebut dan kemudian menghanyutkan diri dan menggunakan kedua tangannya sebagai dayung untuk mengendalikan tubuhnya agar tidak masuk ke arus mainstream, ketika sudah berada didekat jembatan yang arusnya tenang dia berenang agresif agar sampai ke pinggir, dan naik ke daratan. Jangan kawatir hanyut, karena ada Kak Warjeb di sana yang siap menolong dengan rescue rope. Setelah masing-masing mencoba renang jeram sebanyak dua kali, kami bersiap untuk berangkat pengarungan kedua. Satu perahu bersama Kak Warjeb dan Kak Wucing, satu lagi bersama Kak Juku dan Kak Abuy. Kali ini, untuk menghindari keterlambatan karena miskomunikasi transportasi, selama mengarung Achal membawa HP milik Eja yang dimasukan kedalam kantong pelindung HP anti air. Materi yang diberikan selama pengarungan sama seperti pengarungan pertama, ada tambahan istilah yang kami dapat bersama Kak Warjeb, istilah itu adalah ‘BOOM’. Kata-kata tersebut diucapkan oleh skipper ketika perahu akan melewati rintangan berupa patahan batang atau ranting pohon yang jatuh menggantung dipinggiran sungai, yang membahayakan bagian kepala penumpang, sehingga ketika aba-aba itu disebutkan, seluruh penumpang harus menundukan kepala dan badannya sampai masuk ke dalam perahu, dan kemudian akan terdengar suara benturan antara helm dengan ranting pohon itu begitu keras dan menegangkan. Di setiap pengarungan, kami pasti akan mencari eddies -arus tenang, biasanya di pinggir sungai- untuk beristirahat dan memakan makanan ringan, karena sesungguhnya mendayung itu berat, kamu gak akan kuat, biar anak Orad saja, Hahaha. Setelah sampai di Finish, Sembari menunggu Perahu Kak Kipli dan Kak Juku yang belum sampai –karena mengulang jeram berkali-kali- , Klon, Kalonq, Bargot, Banyu, dan Achal melakukan renang jeram lagi di dekat finish. Ketika semua sudah lengkap, kami menghubungi saudara kami di camp agar segera mengirim odong-odong untuk menjemput kami. Sekitar 10 menit menunggu dan masih tidak ada odong-odang yang datang, Kak Juku berinisiatif untuk mengajarkan kepada kami materi yang belum disampaikan, flip-flop. Satu atau tiga orang naik keatas perahu yang terbalik, dan kemudian menggunakan webbing,carabiner, atau bagian pangkal dayung untuk membalikkan lagi perahu kembali seperti seharusnya.  Materi ini, akan berfungsi semisal ditengah pengarungan perahu kita terbalik, kita tidak perlu panic dan cukup sigap untuk segera melakukan flip-flop. Sayangnya, sampai semua siswa yang ikut pengarungan pertama berhasil melakukan flip-flop mandiri, dan Kak Warjeb sempat mengajarkan kepada beberapa siswa cara menjadi skipper, odong-odong penjemput kami belum datang. Kak Kipli kemudian mengajak Kuro untuk berjalan ke atas dan mencari angkutan lain agar kami bisa segera kembali ke Camp, ternyata di jalan mereka bertemu Odong-odong kami yang bukannya menjemput kami malah mengantar beberapa anak kecil entah kemana, akhirnya setelah molor sampai jam 2, kami pulang dengan menyewa angkot. Setelah Makan siang, kami menyegerakan diri untuk pengarungan ketiga. Materi baru pada pengarungan ketiga ini adalah menyelamatkan korban hanyut dengan rescue rope, disini kami diajari bagaimana cara melempar tali yang tepat dan bagaimana menggulung kembali talinya agar mudah terlempar tanpa tersangkut. Kami dibagi menjadi dua tugas, si penyelamat dan si korban, tentu saja korban harus melakukan renang jeram apabila rescue rope yang dilempar tidak berhasil dia tangkap. Dari praktik tersebut kami dapat menyimpulkan bahwa sebaiknya tali dilempar sesaat sebelum atau tepat ketika korban hanyut di depan penyelamat, karena massa tali yang ringan menyebabkan tali lebih cepat hanyut daripada korban. Beruntung, pada pengarungan terakhir ini odong-odong kami tidak terlambat, ia malah menunggu kami selama 1 jam karena materi tersbut. Pukul 5 kami kembali ke camp, dan setelah makan malam kami bersiap untuk pulang.

Bersantai di Eddies: Refleksi dan Evaluasi

Pukul 7, para senior kami mohon berpamitan untuk pulang. Karena, besok pagi harus kembali bekerja. Terima Kasih Kakak Abang semua. Sambil menunggu hujan yang dengan setia selalu turun di langit bogor yang dingin, Kak Juku bertanya kepada kami, tentang apa saja evaluasi kami selama menjalani perjalanan divisi ini. Awlanya, kami berbicara tentang kesiapan perencanaan, tentang Manajemen Perjalanan, dan Plan-plan yang seharusnya kami siapkan agar kami sudah siap ketika misalnya ada hal yang terjadi diluar rencana awal kami. Tentang survey yang seharusnya lebih detail, tentang tanggung jawab masing-masing individu terhadap tugas yang dibawanya, dan tentang penghormatan kepada senior  agar jangan sampai mereka yang membantu kita, tapi kita yang harus melayani dan mendengarkan seluruh arahan mereka, karena banyak yang sudah mereka luangkan untuk bisa hadir di mabim ini. Sampai kemudian, meluas ke berbagai hal seperti, dari mabim ini kita belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan semua orang, saling menghargai tanpa melihat pangkat dan jabatan, karena pada akhirnya kita saling membutuhkan, dan kebersamaan kita satu divisi yang sepertinya membuat masalah seperti apapun yang mengahadang kita, jeram securam apapun di depan kita, pasti bisa kita lalui dengan senyum, tawa, atau air mata bahagia.

Sejatinya Masa Bimbingan ini bukan hanya tentang mendayung atau berenang, tapi juga tantang pelajaran hidup, untuk terus bertahan diantara derasnya arus hanya dengan perahu dan kawan sebagai senjata berjuang. Karena kenapa harus menyerah, jika kita masih melihat banyak celah. Batu itu semu, kita abadi. Terima Kasih, sudah membaca, semoga bermanfaat dan menginspirasi,

Ketika hatimu berteriak ‘ORAD?!”, suarakan dengan lantang,”Cihuyyyy!!!!”

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*