Citirem, Ujian Leadership

Catatan Sejarah Stapala (Didik Sabudi – 006/SPA/79)

Awalnya banyak yang under estimate tentang kepemimpinan dan organisasi stapala waktu itu, bahkan banyak yang melecehkan dengan sindiran-sindiran yang cukup tajam. Ujian leadership pertama saya adalah perjalanan ke pantai Citirem (pengumbahan).

Untuk perjalanan pertama ini saya melakukan survai sendiri secara langsung; yang saya ingat ikut dalam survai adalah Ilham Kecil (walaupun dia gak masuk tingkat IV tapi sering juga ikut kegiatan stapala waktu itu), Dicky (perwakilan senat) dan saya lupa siapa lagi yang ikut waktu itu.

Memakai mobil citroennya Dicky (senat mengawasi kegiatan stapala karena anggaran kegiatan di subsidi oleh Senat). Sedkit cerita tentang mobilnya Dicky ini; sepulang survai, kedapatan as atau per mobilnya patah, karena jalan yang dilalui mantap hancurnya. Perjalanan dari Jakarta ke arah pelabuhan ratu sukabumi. Sebelum pelabuhan ratu ada jalan ke kiri menuju jampang kulon, ujung genteng, kampung surade, ada pos PPA, nyebrang hutan lindung, sampai ke pantai citirem (tempat penyu bertelur). Alamak, betapa indah pantainya. Kalau Tibet punya Sangrila (hidden paradise), kitapun punya citirem; surga yang ketinggalan di bumi.

Berdasarkan survai saya waktu itu, perjalanan ke citirem dari jakarta diperkirakan selama 7 jam tapi dalam pelaksanaannya ternyata 19 jam di atas truck. Banyak sumpah serapah dan sindiran yang saya terima waktu itu, ’ …. katanya tujuh jam, tapi kok ….. jam… ”. Banyak komplain, ada peserta yang muntah2, dsb. dan sebagian panitia pada stress. Kesalahan saya waktu itu adalah pada saat2 terakhir menjelang keberangkatan, merubah angkutan dari truk kecil ke truk besar. Keputusan itu diambil karena melonjaknya peserta pada saat2 terakhir. Dan kesalahan tersebut berakibat fatal karena truk besar tidak bisa melewati jembatan dari arah pelabuhan ratu ke jampang kulon dan harus melewati beberapa portal yang dikunci pada malam hari. Akhirnya mencari jalan alternatif yang berputar-putar, tanya sana tanya sini dan sampai dalam waktu 19 jam.

Fantastik. Waktu itu, saya merasa bahwa kesalahan ini semuanya bertumpu kepada saya sendiri dan saya harus menghadapinya dan mempertanggungjawabkannya. Inilah yang saya sebut dengan ujian kepemimpinan. Jika anda dalam posisi saya waktu itu, mungkin hal ini bisa jadi satu pelajaran yang mahal. Tapi satu hal yang menghibur saya waktu itu; begitu peserta sampai di pantai, mukanya pada sumringah. Belum lagi yang sempat mengintip dan menaiki penyu (setelah bertelur) pada malam hari, dan ikut menebarkan tukik (bayi penyu) ke tengah laut. Ada beberapa juga yang sempat mencoba telur penyu rebus.

Cerita perjalanan ini dimuat dalam majalah purnawarman waktu itu dalam dua episode. Sejak saat itu, secara rutin stapala menulis di majalah purnawarman tentang setiap perjalanan atau petualangan, sehingga eksistensi stapala mulai dirasakan di kalangan kampus.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*