Dari Bukit Senyum Memotret Singapura
- Suara Karya, Rabu, 29 November 2006 -
Kota Batam memang indah. Penuh dengan daya tarik. Selain dikenal dengan sebutan Kota Perdagangan dan Industri, Batam yang selama beberapa tahun terakhir menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ternyata pantas juga disebut Kota Wisata.
Coba perhatikan pelabuhan feri Batam, setiap liburan tampak dipadati wisatawan asing dari Singapura. Pada akhir-akhir pekan, terutama di bulan Juli hingga Agustus, arus wisatawan dari dan ke Batam-Singapura meningkat tajam. Pada bulan Juli-Agustus, sebagian besar kawasan perbelanjaan di Singapura, terutama di sejumlah mal yang ada di Orchard Road, memberlakukan pesta diskon besar-besaran untuk segala macam barang jualan, mulai dari produk elektronika, pakaian, telepon genggam, hingga perlengkapan rumah tangga.
Pesta diskon besar-brsaran itu dilakukan dalam rangka menyemarakkan hari kemerdekaan Singapura. Hal serupa juga dilakukan sejumlah hotel dan tempat-tempat perbelanjaan di Nagoya, Batam. "Karena itu, tak aneh jika di bulan Juli dan Agustus, kecenderungan arus wisatawan dari dan ke Batam-Singapura selalu meningkat. Di Singapura, warga Indonesia bisa puas berbelanja barang dengan diskon mencapai 70 persen, sedangkan di Batam, warga Singapura bisa menikmati diskon kamar hotel dan belanjaan di mal hingga mencapai 50 persen," ujar Sarifudin Bahalwan, salah seorang pengusaha traveling di Nagoya Batam.
Syarifudin, pengusaha berdarah Arab-Kuala Lumpur, mengaku banyak tahu tentang kepariwisataan di Batam dan Singapura karena sudah 15 tahun lamanya dia menggeluti usaha pelancongan dari dan ke Batam-Singapura. Di Batam sendiri, dengan bekerja sama dengan pengusaha asli Batam, Syarifudin mengelola dua usaha traveling di Batam dan Tanjungpinang, sementara di Singapura dia mengelola lima tempat penjualan souvenir.
Bukit Senyum adalah sebuah lokasi perbukitan di Batam. Lokasi ini menyimpan potensi pelancongan yang bagus jika dikembangkan secara profesional. Dari kawasan Bukit Senyum, masyarakat bisa memotret Singapura, yang seolah-olah jaraknya tidak jauh. Dari Bukit Senyum masyarakat bisa menyaksikan bangunan-bangunan bertingkat Singapura, dan dari Bukit Senyum masyarakat bisa leluasa memperhatikan lalu lalang kapal laut yang akan bepergian dari dan ke Batam-Singapura atau ke tujuan lain. Dari kawasan Bukit Senyum masyarakat juga bisa leluasa menyaksikan pesawat-pesawat dari Bandara Internasional Changi, Singapura, take off hingga ke atas kawasan Bukit Senyum.
Dan, bila malam hari, indahnya Singapura jelas terlihat. Lampu-lampu kapal dan bangunan tinggi di Singapura tampak gemerlapan. Sementara di Bukit Senyum, Batam, masyarakat pelancong menyaksikan eksotisme Singapura itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu duduk-duduk di atas rumput, atau bangku-bangku darurat yang disediakan para pedagang setempat.
Kawasan wisata Bukit Senyum memang belum dilengkapi fasilitas hotel dan tempat-tempat pelancongan yang representatif. "Padahal, kenyataan itu diperlukan pelancong," ujar beberapa pengunjung.
Rio Ragis Miranda, mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor, yang baru-baru ini sempat menyaksikan suasana malam Bukit Senyum, mengaku takjub dengan potensi wisata kawasan puncak bukit tersebut. "Daya tarik Bukit Senyum di malam hari sebenarnya hanyalah gemerlapnya lampu-lampu bangunan dan kapal di Singapura, yang kebetulan jaraknya relatif dekat dengan pelabuhan Batu Ampar, Batam. Tapi, saya yakin, jika potensi wisata Bukit Senyum dikelola secara profesional, hasilnya akan luar biasa. Banyak masyarakat yang bisa diuntungkan jika potensi wisata Bukit Senyum itu diolah," ujar Rio.
Hal-hal yang diperlukan segera dibangun di kawasan wisata Bukit Senyum, menurut Rio, selain hotel, tempat-tempat pelancongan yang menyediakan hidangan makanan ringan, minuman segar, dan lokasi perparkiran. Di lokasi-lokasi pelancongan itu, Rio menilai, pengunjung tidak sekadar bisa menghilangkan kepenatan, tetapi sambil bersantai dan menikmati lagu-lagu kenangan, mencicipi makanan ringan, juga sangat dimungkinkan kalangan pengusaha melakukan transaksi bisnis di lokasi itu.
Apa yang dituturkan Rio Ragis Miranda itu dibenarkan beberapa warga pengelola parkir di Bukit Senyum. Hamzah Arraniri, pemuda dari Meulaboh, Aceh, mengatakan, selama setahun terakhir dia bisa hidup di Batam dengan hanya berjualan kopi panas dan pisang goreng di Bukit Senyum. "Kalau malam Minggu, pengunjung ramai sekali. Mereka duduk-duduk sambil memperhatikan gemerlapnya lampu-lampu bangunan Singapura. Kepada merekalah saya menawarkan minuman dan hidangan ala kadarnya. Ternyata jualan saya selalu habis. Untungnya pun lumayan," ujar Hamzah.
Sementara Jufriansyah (32) asal Bengkulu menjadi fotografer amatir di Bukit Senyum. Setiap Minggu, kata Jufri, sedikitnya Rp 100 ribu bersih bisa dikantonginya dari hasil "jualan" foto polaroid kepada pengunjung yang ingin bergambar dengan latar belakang Singapura. Jufri sangat yakin, pendapatannya bisa berlimpah jika pengelolaan potensi wisata Bukit Senyum dilakukan secara profesional.
"Soalnya, jika diolah secara tepat, pengunjung akan makin banyak berdatangan ke Bukit Senyum," ujar Jufri. "Dan Batam akan memetik keuntungan dari pengelolaan parkir serta pajak mendirikan tempat pelancongan di sini," kata Hamzah.
Syarifudin rupanya sudah lama memikirkan semua itu. Makanya, bisa jadi, dialah pengusaha yang paling merasa rugi jika gagal membangun hotel dan tempat pelancongan di Bukit Senyum. Anda sudah pernah berwisata di Bukit Senyum, Batam?
tegil........fotonya jangan
tegil........fotonya jangan kecil2 dong, biar bisa dinikmati banyak orang, terus berkreasi ya...ok thx tulisannya, bagus lho...salam buat teman2 stapala di batam
Foto kecil
maaf bang kirain fotonya yg ini jg harus 100 x 100 pixel jadinya kekecilan...maaf..
809/SPA/06 Tegil