Masa bimbingan STAPALA, Divisi Susur Gua.

Segalanya dimulai dari malam pembagian divisi, dengan acara mematikan lampu, kemudian membuka kertasnya, lalu lampu dihidupkan. Semua bersorak ria karena masuk di divisi yang diinginkan. Sayang sekali Pinut malam itu ada kuliah sehingga datang terlambat, sehingga tidak bisa turut merasakan momen-momen mendebarkan itu.

Selanjutnya, kami (seluruh siswa) mulai latihan. Latihan bergantung divisi masing-masing. Kami, calon manusia gua latihan juga, diajari Kak Beruk tercinta. Mulai dari pasang webbing, pengenalan alat-alat SRT, naik-turun tali dengan prusik alias teknik prusiking, naik dibantu dengan pasangan hebat croll dan jumar, turun memakai auto-stop juga figure of eight, membuat anchor, hingga yang terakhir deviasi (Kak Beruk berkata kami masih ada utang 1 materi, yakni intermediate). Diselingi perjalanan ke mapala lain sekalian meminjam alat. Menurut kami latihannya kurang lama, siap ataupun belum, perjalanan mabim sudah di depan mata.

Berangkat tanggal 31 Januari pukul 21.14 WIP

Sebelumnya kami check list alat dan belanja logistik, ini dilakukan dari pagi sampai sore. Malamnya kami makan, hasil masakan chef Mosel, Oyot, dan Awi. Selesai makan kami berdoa bersama di depan posko dan diberi pesan oleh Kak Luluk, yakni safety first, turuti kata kakak-kakak, dan jaga alat jangan sampai hilang. Lalu diakhiri dengan jargon cavers dan jargon STAPALA. Kardus air mineral hampir ketinggalan, jadi dijemput balik ke Posko lagi. Kami benar-benar berangkat meninggalkan kampus pukul 21.32 WIB.

Berangkatlah kami bersebelas, tanpa menyadari akan menerima pengalaman hebat nanti. Calon manusia gua ini ada sebelas, cerita mungkin berbeda satu sama lain. Ini salah satu jenis ceritanya, karena cuma dari satu sudut pandang. Jadi beginilah kisah kami.

Kami melewati jalan tol yang ada Mercure Hotel di salah satu sisinya, lupa entah kiri atau kanan. Kemudian baru menemukan nama tolnya berkat bantuan G-Maps, yaitu Tol Pondok Pinang. Ini pun ragu entah benar atau salah, biarlah. Di perjalanan, kami diiringi musik angkot yang sangat tidak sesuai dengan genre kids zaman now. Jadi kami cerita-cerita saja, ngalorngidul, sampai Bilung bilang kami berisik. Juga jangan lupakan Jigur yang entah di menit ke berapa sudah pindah alam, alam mimpi. Aku tidak tahu, secapai apa saudaraku yang naik motor. Semoga mereka tidak lupa pakai jaket, dingin, mereka tidak akan kuat. Ya, kan kami butuh energi buat eksplor, sejauh perjalanan angkot hanya itu yang tergambar di kepalaku, simpan energi, dan percaya ini bakal seru.

Rincian cerita:

Tim angkot : Gemot, Prusik, Mili, Pinut, Otu, Bilung, Kak Beruk, dan Jigur

Tim motor : Wakwan, Kak Toleb, Kak Ligan, Gaplek, Komar, dan Bagong

Pukul 21.57,  masih di jalan tol.

Situasi terkini, kami berada di km 30, Jigur sudah menutup mulut dan hidung dengan buff, Mili masih setia dengan kameranya, Pinut dan Gemot yang kelaparan memutuskan makan madu, Prusik terkantuk-kantuk, Otu memandangi jalan, Kak Beruk mencoba hadap depan karena mual mulai menyerang, dan Bilung yang mencoba untuk tidur tapi sepertinya gagal.

Pukul 22.03, masih di jalan tol.

Ini dicatat karena ada insiden. Angkot kami hampir menabrak truk. Rincian cerita, Otu yang sedang memperhatikan jalan tanpa sadar mencoba memperhatikan jalan dalam sudut pandang supir. Otu heran mengapa di jalan tol, di mana semua kendaraan menginjak pedal gas dalam-dalam, dengan banyak rambu-rambu yang bertuliskan “jalur kanan untuk mendahului”– begitulah kurang lebih, tapi angkot malah mendahului lewat sebelah kiri. Entahlah apa yang ada di pikiran Pak Supir angkot. Pada suatu saat, ketika angkot ingin mendahului truk, di samping truk hanya tersisa satu jalur dan angkot hendak mendahului truk di jalur itu. Entah apa yang ada di pikiran Pak Supir truk, truk tiba-tiba berpindah ke jalur yang sama seperti yang diniatkan Pak Supir angkot. Angkot berada di titik buta spion truk, jadilah Pak Supir angkot menginjak rem. Tidak penuh, tapi sebutlah 2/3. Di hipotesis Pak Supir dan Otu itu sudah cukup, namun ternyata hipotesis salah. Di sepersekian detik ketika angkot hampir menyundul truk, Pak Supir tepat menginjak penuh rem. Yang ber-efek ban angkot bergesekan dengan aspal hingga mengeluarkan bunyi, asap, dan bau gosong, kerir dan timbunan barang barang beserta kami refleks terhempas ke depan, tapi semuanya tepat waktu, angkot aman. Yang lucu adalah Pinut dan Otu buru-buru menulis dan mengecek pukul berapakah peristiwa itu terjadi.

Pukul 22.17, angkot keluar tol belok ke kiri.

Pukul 22.21, angkot putar balik karena belokan ke kanannya terlupakan.

Pukul 22.40, putar balik lagi, belokan kirinya terlewatkan.

Pukul 23.00, kami sampai.

Menurunkan barang dari angkot lalu moving ke rumah Pak Eman. Beliau sangat ramah. Kami datang ketika beliau sudah tidur. Sepertinya beliau terbangun karena kami (terutama Pinut) berisik. Pak Eman lantas menyediakan kami tikar dan air minum. Hal keren dari tempat Pak Eman adalah di kamar mandinya pakai sumur, bukan kran. Wah, jadi flashback kenangan waktu masih kecil dulu. Di rumah Pak Eman, kami menunggu tim motor karena tim angkot tiba lebih dulu. Tim motor sampai pukul 00.30. Setelah itu kami semua tidur karena besok harus berangkat jam 5 pagi.

Faktanya, kami semua telat bangun. Kami salat subuh pukul 05.25. Setelah semuanya selesai salat, kami makan Maitos dari Kak Ligan. Ketika hari mulai cerah, ada bapak-bapak yang jualan donat. Kami pun membelinya, soalnya Maitos rupanya kurang mampu mengganjal perut-berkapasitas-besar kami. Kemudian kami packing barang-barang yang dibutuhkan untuk sehari di gua, sisanya kami simpan di rumah Pak Eman. Yang tidak boleh terlupa adalah pemanasan dan acara foto-foto. Sebelum tracking wajib berfoto dulu bareng Pak Eman.

Hari Kedua, tanggal 1 Februari 2018, Gua Ciasem

Petualangan kami berlanjut. Kami dipandu Pak Eman menuju Gua Ciasem. Trackingnya tidak terlalu jauh, namun begitulah, jalanannya berlumpur sampai memakan korban. Mili jatuh terpeleset, untung nggak terluka. Jalanannya juga menanjak. Panas di lutut. Ini karena nggak rajin ikut OKA.

Ternyata jalan menuju gua bukan jalan setapak. Pak Eman harus buka jalur dan Gaplek menandai jalan yang kami lewati.

Pukul 08.25, sampai di mulut gua, kami bingung harus mendirikan tenda di mana. Soalnya jalanan di sekitar gua tidak rata, sempit, dan menanjak. Kebun yang ada di samping mulut gua tahun lalu belum ada. Jadi kakak-kakak kami memimpin mencari lokasi yang tepat. Dan menemukan lokasi yang agak jauh dari gua. Kami membersihkan lokasi dari rumput-rumput, lalu barulah 2 tenda didirikan. Di atas tenda dipasang flysheet, di depannya dibuat dapur, satu tenda, serta tempat alat-alat diletakkan.

Pukul 09.15, kami melakukan pengecekan alat dan cek kelayakan. Kami dibagi 2 kloter. Kloter petama yaitu Bilung, Mili, Gaplek, Wakwan, Bagong, dan Kak Beruk. Kloter kedua berisikan Otu, Prusik, Pinut, Gemot, Komar, Jigur, juga tidak terlupakan Kombestol (Komandan Besar Toleb). Kloter pertama langsung memakai peralatan SRT di badan masing-masing.

Pukul 09.21, Bilung dan Prusik segera memasak. Lalu selepas mengecek alat Pinut menggantikan Bilung yang akan segera menyapa kedalaman gua. Acara memasak diselingi oleh insiden tertinggalnya micin di rumah Pak Eman. Jadi lah satu-satunya modal perasa hanya bumbu mie instan. Sungguh penyelamat.

Pukul 11.00, kami makan. Bolehlah, rasanya tetap enak kok.

Pukul 11.30 , siswa lelaki, Wakwan dan Gaplek yang merupakan bagian dari kloter pertama memasang anchor.

Pukul 12.10, rigging selesai.

Pukul 12.20, Kak Beruk turun.

Pukul 12.31, Gaplek masuk ke bumi, istilah hiperbola-nya.

Pukul 12.46, Bilung menyapa kegelapan.

Pukul 13.00, Bagong berkenalan dengan batuan gua.

Pukul 13.17, Mili memulai pengalaman bernapas di  udara gua.

Pukul 13.42, Wakwan menutup kloter pertama. Dengan kedatangannya ke perut bumi, perjalanan kloter 1 Ciasem dimulai.

Pukul 13.50, siswa yang tersisa kembali ke camp, tidur pastinya, tapi sesaat Mili hendak turun, Kak Toleb, Kak Ligan, Otu, dan Prusik kembali ke rumah Pak Eman. Kenapa? Pertama karena Kak Ligan mau balik kampung. Yang kedua tentunya untuk menjemput micin yang tertinggal. Selama TOP turun Pinut kesepian (juga bosan dan kelaparan).

Pukul 15.57, TOP sampai di camp. Membawa cilok dan beberapa camilan. Oh ya, Kak Toleb juga menyempatkan membeli kartu remi di warung, karena lupa membawa kartu remi dari Posko. Sungguh Pinut penasaran dengan apa yang mereka lakukan hingga membutuhkan waktu lama untuk kembali. Sekarang giliran TOP yang tidur. Mereka rebutan hammock, imut sekali. Setelah bergelut, akhirnya Otu dan Prusik menyerah dan sempat tidur selama 40 menit. Selepas itu O dan P mengalah, meninggalkan T sendirian di hammock. Tanpa OP, T tidak akan menjadi TOP.

Pukul 17.15, Pinut memasak, semua mulai bangun. Sebenarnya hanya ingin menyeduh teh, namun akhirnya ditemani Prusik untuk memasak. Kemudian Gemot, Komar serta Otu juga bergabung. Kombestol membuat tiang penyangga flysheet, lantas duduk di dekat tempat alat, dan memakai Soffel.

Pukul 19.12, mengisi kebosanan, siswa lelaki dan Kak Toleb main poker, sementara siswa perempuan jadi penonton. Menonton sampai mengerti bagaimana cara bermain poker. Tentu saja sambil memakan camilan. Pinut lah pelaku kelaparan yang membuka camilan itu.

Pukul 20.17, kami dikejutkan dengan teriakan Gaplek, yakni: “Kloter 2 siap-siap”. Karena lagi asyik main poker, kami semua tidak menyadari itu suara siapa, dan Pinut menyangka itu suara Kak Beruk. Bahkan Kanda Tholeph mengompori siswa lelaki untuk lanjut main poker. Belum hectic katanya. Pinut hanya bisa heran dan geregetan. Eh, sambil protes juga ke Kak Toleb ternyata.

Pukul 20.33, Bilung meninggalkan gelapnya gua, tapi bertemu dengan gelapnya malam.

Pukul 21.00, Bagong sudah memiliki kenalan beberapa batu. Dari ceritanya, sepertinya batu ramah. Dia bahagia. Saat Bagong datang lah, Kombestol baru memerintahkan sebagian dari kami untuk memasang perlengkapan wajib. Pinut menggantikan Otu dan Prusik di mulut gua, sementara mereka berganti seragam. Ternyata di bebatuan ada Kak Beruk yang tidur memeluk batu sembari mengawasi anak buahnya naik satu persatu.

Pukul 21.30, Mili kembali bernapas di udara permukaan seperti semula.

Pukul 21.37, Wakwan dengan kelihaiannya menutup kembali kloter 1. Sebelum naik, ia berteriak dari dasar gua dan menanyakan sekarang jam berapa. Mau men-challenge diri sendiri rupanya dia. Dari pitch 1 ke mulut gua hanya membutuhkan 4 menit.

Dari sudut pandang penulis yang merupakan kloter 2, penulis sangat excited, ketakuan, khawatir, ngilu di seluruh tubuh, gentar, dll. Bayangkan, kami turun malam-malam. Ngeri, sumpah. Di permukaan gelap, di dalam juga ketemu gelap. Oh, duhai hati kuatlah, pikiran tenanglah, percayalah kau bisa.

Sebelum turun, kami berdoa dulu, Boi. Suasana makin seram.

Pukul 23.01, Kak Toleb turun, penanda kloter 2, siap nggak siap, ya inilah saatnya.

Pukul 23.18, Otu menggambar kenangan pertama dengan gua. Belum mengetahui apakah kenangannya akan indah atau hanya gelap saja.

Pukul 23.39, Jigur memulai ceritanya pula, membawa serta perlengkapan dokumentasi.

Pukul 23.54, Prusik turun, belajar menggantungkan jiwanya hanya pada seutas tali.

Pukul 00.07, Komar turun, matanya mencoba adaptasi dengan gelapnya gua.

Pukul 00.16, Pinut merasakan perasaan itu pertama kali, yang di kemudian hari menyebabkannya berulang-ulang mengatakan rindu gua.

Pukul 00.25, Gemot turun. Mengesahkan bahwa dini hari itu, kloter 2 untuk pertama kalinya mencicipi suguhan gua.

Lupakan perasaan tadi, lupakan kekhawatiran tadi. Gua mengagumkan, Boi. Mengagumkan dengan kesederhanaannya, dengan kesunyiannya. Seketika kaki penulis sampai di tanah gua, mata langsung menyesuaikan dengan intensitas cahaya, kaki segera bergerak ke sana ke mari. Bukan karena lasak (banyak tingkah, red.), tapi lebih karena disuruh eksplor oleh Kak Toleb dan rasa penasaran. Ketika kepala didongakkan, ternyata gua Ciasem cukup tinggi, kira-kira 15 meter. Entahlah, ini Komar yang bilang. Diameternya juga cukup luas, sehingga tidak pengap untuk dihuni kami bertujuh. Guanya hampir bulat, banyak stalagtit, kepala penulis terantuk lebih dari dua kali mungkin. Tepat di depan tali ada lubang vertikal sempit ke bawah. Di bayangan penulis, bukan begini seharusnya pintu gua di awal perkenalan. Seharusnya horizontal dan agak lebar, tapi ternyata gua tidak sependapat. Kloter 2 langsung dikenalkan dengan jalan yang berbeda dengan jalan permukaan. Tapi tak apa, kami kuat, ini bahkan menantang.

Jalan-jalan di Gua Ciasem tidaklah terlalu panjang. Kami hanya jalan beberapa meter, sudah harus SRT-an lagi. Gua Ciasem punya langit-langit luas. Tak terasa kami sudah berada di chamber, entahlah ini Kak Toleb yang bilang, yang penulis amati ini menjadi akhir eksplor di Gua Ciasem. Sementara Bottom gua tidak bisa dimasuki, karena lubang nya terlalu sempit. Di chamber ini kemudian dijelaskan Kak Toleb bahwa Gua Ciasem punya 4 pitch. Apa itu pitch? Pitch menurut penulis seperti teras, tidak seluas chamber karena pitch diujungnya seperti jurang, menjorok ke sesuatu yang lebih rendah, membutuhkan SRT-an. Kata Kak Toleb pitch dan chamber itu beda. Chamber bukanlah pitch, tapi pitch bisa jadi chamber. Entahlah, penulis belum terlalu memahaminya.

Gua Ciasem adalah gua vertikal-horizontal. Di dalamnya ada air, tapi tidak terlalu banyak, hanya sebatas genangan-genangan saja, entah dari mana asalnya. Orang terakhir dari kloter 2 mencapai pitch 4 tepat pukul 02.17. Di pitch 4 atau chamber, kami makan roti dengan susu kental manis rasa cokelat merk Enaak dan minum air, take a many pictures, kemudian naik. Rasanya naik di gua lebih sulit daripada saat latihan di Plasma. Mungkin karena tubuh bergesekan langsung dengan dinding gua sehingga terasa berat dan tidak stabil pergerakannya. Menurut Pinut, sangat dibutuhkan latihan pull-up. Cavers ada bumbu-bumbu memanjat tebing juga rupanya. Asik.

Urutan kami naik pun ditentukan secara random. Dari pitch 4 ke pitch 3, Kombestol naik terlebih dahulu. Panutan kami. Tapi lagi-lagi Pinut berpikir bahwa Kombestol hendak meluangkan waktu untuk tidur lebih lama. Kemudian Komar menyusul. Ia pertama kali merasakan susahnya naik saat tubuh kita harus bertabrakan dengan dinding. Apalagi ia membawa tackle bag yang berisi kamera saat itu. Jadilah kami yang masih di bawah gugup, karena sama alpanya soal memanjat naik ke permukaan. Namun kami akhirnya saling bergurau. Di situlah Gemot mulai memperoleh poin kerecehannya, yang hingga saat ini Pinut mengedit, skor receh Gemot adalah 360. Kami juga bernyanyi-nyanyi dengan riang. Di awali dengan lontaran lirik pertama dari Pinut. Antrian berikutnya adalah Otu. Dia sangat tangguh. Pinut memperhatikan sambil menyemangati. Jigur bangun dari tidurnya kemudian memanjat naik. Di bagian awal memang yang tersulit. Mencoba menyeimbangkan keadaan sehingga tidak lagi terantuk-antuk ke dinding gua. Saat Jigur naiklah, Gemot, Prusik, dan Pinut mulai tertidur. Pinut sadar oleh teriakan Komar. Tiba giliran Pinut rupanya. Nikmat sekali bisa merasakan tidur hampir 1 jam di chamber Ciasem. Pinut naik meninggalkan Gemot yang masih tertidur di bawah, sendirian. Selepas Gemot naik, Komar-Gemot-Pinut unrigging anchor dan merapikan alat-alat.

Sebelum Gemot sampai di pitch 3, Pinut berjalan lebih jauh untuk melihat yang lainnya, tapi ternyata hanya satu belokan nampaklah saudara-saudara kami tidur bergelimpangan. Waktu itu Pinut cukup terkejut melihat kondisi itu. Hehe.

Kali ini Pinut mengawali naik menuju pitch 2 setelah sebelumnya membangunkan para pasukan yang tertidur namun tidak berhasil. Pinut mencoba memberi waktu lebih lama untuk mereka tidur. Disusul oleh Komar kemudian Prusik, tak lama Gemot naik pula. Pinut dan Komar sudah mencapai posisi yang lumayan tinggi dan membantu yang lain naik. Tibalah Otu bertemu tali kernmantel lagi. Otu berangkat dengan meninggalkan Jigur dan Kak Toleb yang tertidur (lagi). Saat hampir sampai atas Otu meneriakkan nama Jigur, memberitahukan bahwa sesaat lagi tiba gilirannya. Karena telah berpengalaman setelah melewati hari-hari bersama Kombestol, Otu pun membangunkannya pula. Dari teriakan Otu, Pinut mengetahui bahwa Kombestol tak bangun jua. Sehingga kami yang di atas berteriak memanggil Kombestol. Semacam paduan suara. Jigur sudah sampai pertengahan tali pun Kak Toleb belum bangun juga. Bahkan Jigur sampai melempari Kak Leb dengan batu dan menyiramnya dengan air minum yang tersisa. Alhamdulillah Kombestol akhirnya sadarkan diri, sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan kami dengan tenang.

Prusik mengalami pertama kalinya salat di dalam gua, tepatnya di pitch 2. Otu naik pertama untuk mencapai permukaan. Dan disusul oleh Prusik yang sudah rindu cahaya di permukaan. Jigur juga ingin segera naik, yang membuat dia memutuskkan untuk tidak tidur lagi. Pinut sungguh ingin naik dua terakhir seperti saat dari pitch 4 ke pitch 3. Itu karena Komar baru menyadari bahwa ia membawa music box dan menyetelnya keras-keras saat itu juga. Dan langsunglah Pinut karaokean dengan gilanya. Tapi keseruan itu harus berakhir saat Gemot dan Komar tidak ada yang mau naik duluan. Entah mengapa. Mungkin mereka juga ingin menghabiskan waktu lebih lama di dalam gua. Selepas Pinut, Komar menyusul tak lupa membawa music box milik Kak Toleb itu. Gemot kemudian naik dan disusul oleh Kombestol. Kemudian kami cleaning set anchor terakhir yang tersisa.

Ada satu hal yang membekas di Gua Ciasem, hal yang membuat seluruh siswa Kolter 2 makin menyayangi Kak Toleb. Yakni Kak Toleb yang selalu berlaku ala “Pande-pande klean aja lah”. Kami dilepas sehingga kami menjadi mandiri. Kombestol memang terbaik.

Karena Otu dan Pinut– Penulis dan Editor sama-sama Kloter 2 Ciasem, jadinya kami tidak mengetahui apa saja yang terjadi di permukaan sana selama kami di perut Bumi. Kami rasa mereka tidur panjang, merehatkan badan.

Pukul 06.15, Otu selesai menggambar. Hasilnya adalah salah satu masterpiece di hidupnya.

Pukul 06.21, Prusik paham bahwa tali pun takkan berkhianat.

Pukul 06.49, entah bagamaina cerita Jigur. Karena penulis lihat dia menghabiskan banyak waktu untuk tidur di bawah sana.

Pukul 07.05, Pinut naik dengan hati penuh perasaan itu.

Pukul 07.17, Komar naik dengan pelajaran bagaimana naik ke atas dengan mudah, karena saban pitch dia telah merasakan kesusahan itu.

Pukul 07.37, Gemot naik dengan kebahagiaannya. Dari Gemot penulis menyadari bahwa selagi kami eksplor gua, kami juga sedang eksplor diri kami masing-masing.

Pukul 07.00, Kak Toleb naik, orang terakhir yang menatap langit biru. Semua indah.

Pukul 07.55, kloter 2 cleaning anchor yang terakhir. Sebelumnya, sekalian naik kloter 2 juga cleaning semua anchor di setiap pitch.

Pukul 08.10, kloter 1 menyiapkan makanan. Itulah yang ditunggu karena kami semua kelaparan.

Pukul 09.23, kami makan bersama.

Pukul 09.39, packing semua barang: tenda, alat-alat, peralatan masak, tidak ketinggalan kartu remi.

Pukul 09.57, kami menuruni bukit untuk kembali ke rumah Pak Eman.

Pukul 10.21, kami sampai di rumah Pak Eman.

Hari Ketiga, tanggal 2 Februari 2018, Gua Ciduren

Pukul 10.47 siswa lelaki bangun camp di sekitar gua Ciduren, sementara siswa perempuan melakukan kegiatan yang hanya dilakukan perempuan. Setelah camp jadi, siswa perempuan dijemput dan diantar ke lokasi camp. Itu terjadi sekitar pukul 11.30. Kemudian siswa lelaki melaksanakan ibadah Salat Jumat. Di camp, siswa perempuan melanjutkan menyiapkan hal-hal yang kurang, seperti flysheet untuk teras dan tempat alat-alat digantung.

Pukul 13.56, para lelaki kembali ke camp. Saat itulah para perempuan plus Gemot baru terbangun dari tidur.

Selanjutnya kami kembali mengecek alat, memasak, dan membagi kloter. Lantas ditetapkanlah kloter 1 tersusun atas Otu, Prusik, Gaplek, Bagong, Jigur, Komar, dan Kak Toleb dan kloter 2 berisi Bilung, Pinut, Mili, Wakwan, Gemot, dan Kak Beruk. Di sini Pinut agak sedih karena ingin bersama-sama lagi dengan tim kloter 2 Ciasem (hehe). Tapi Pinut berusaha melapangkan hati karena ia juga ingin tidur lebih dulu sebelum mengeksplor gua kembali.

Pukul 14.30, sementara kloter 2 menyiapkan makanan, kloter 1 beraksi sebagai rigging man.

Pukul 15.42, kloter 1 tinggal memasang tali kernmantel dan safety.

Pukul 16.03, tali karmantel dijatuhkan.

Pukul 16.08, kami makan bersama.

Pukul 16.27, semua telah memakai set SRT dan siap turun menyelami kedalaman Ciduren.

Pukul 16.30, Kak Toleb pertama turun. Di pertengahan jalan ia memasang deviasi. Apa itu deviasi? Pinut belum mengetahuinya waktu itu.

Pukul 17.20, Komar turun membawa serta peralatan dokumentasi. Kali ini matanya mungkin sudah profesional dengan kegelapan gua.

Pukul 17.45, Bagong turun. Yang kutahu Bagong selalu misuh tiap kali mulutnya terbuka, tapi dia kalem sekali tiap turun ke gua. Entahlah, mungkin dia ingin jadi pendengar yang baik untuk batu gua.

Pukul 18.18, Otu turun. Kali ini dia percaya bahwa gua memang akan selalu menawan. Dia menanti bagaimana hasil lukisannya dengan Ciduren kali ini. Otu turun di waktu yang cantik. Otu paling suka angka 18. Kebetulan memang selalu menakjubkan.

Pukul 18.50, Prusik tanpa gentar, sekali lagi, bertaruh pada tali.

Jigur turun di antara 18.50–20.00, tidak diketahui tepatnya. Tenang, dia aman turunnya karena Kak Beruk setia menemani ketika yang lain sudah berjatuhan tertidur. Kali ini apakah dia akan tetap tertidur di perut Bumi?

Pukul 20.00, Gaplek si misterius turun. Dia menjadi penanda paling senyap. Dengan kehadirannya, kami bertujuh mulai berjalan menjelajahi gua.

Kali ini perasaan lebih tenang, yang tersisa hanya penasaran. Ciduren berbeda sangat jauh dengan Ciasem. Ketika Ciasem ber-pitch 4, Ciduren hanya memiliki 1 pitch. Selebihnya hanya jalan panjang yang menunggu untuk kami eksplor. Ciduren jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan Ciasem. Di mana-mana ditemukan air, menyebabkan banyak terbentuk ornamen gua, entah apa saja namanya.

Ciduren merupakan gua vertikal-horizontal. Pintu masuk gua merupakan lubang vertikal yang sangat tinggi, lebih tinggi dari dinding panjat di PKN STAN. Sampai di bawah, Ciduren terbagi menjadi dua, yakni arah kiri dan kanan. Pertama, kami eksplor yang sebelah kanan. Bagian kanan itu adalah bagian yang lebih tinggi, sementara sebelah kiri lebih rendah. Jadi, air di gua mengalir dari kanan ke kiri. Eksplorasi di kanan langsung dihadapkan dengan air, lumpur, dan celah yang sempit. Kami sampai hampir merayap. Jalurnya bervariasi, vertikal maupun horizontal. Yang sama adalah sama-sama sempit. Tidak sampai terlalu jauh eksplor, dapat kami simpulkan jalur kanan tidak bisa dilanjutkan karena tertutup longsoran. Untuk memastikan itu saja, kami sampai bolak-balik 2 kali. Itulah yang terjadi di kloter 1 Ciduren. Sementara di kloter 2 Ciduren, Pinut yang memang kepo nekat jalan di depan menyalip Gemot dan makin bersemangat saat bertemu aliran air. Sayang sekali ditemukan jalan buntu. Sama-sama harus mengecek 2 kali apakah jalur itu bisa dilewati apa tidak. Pinut gugup karena ditanya Kak Beruk apakah ada jalur di sisi kanan. Seperti biasa Pinut takut salah, namun di sini harus yakin, harus berani memutuskan. Bersama gua, Pinut belajar banyak.

Sekarang giliran sebelah kiri. Di sini, definisi eksplor benarlah eksplor yang sesungguhnya. Lorongnya memang lurus, tapi untuk melewatinya itulah harus benar-benar teliti. Kadang kami harus memanjat kemudian merosot, kadang lewat bawah, sedikit menunduk, dan ditemani pula genangan air yang melebihi mata kaki. Serunya adalah saat pilih jalur yang layak dilewati. Karena kalaupun jalurnya terpisah dua, atas atau bawah, ujung-ujungnya nanti akan bersatu lagi. Sangat menarik. Nah, menentukan jalur mana yang lebih mudah dilalui itulah tantangannya. Pokoknya Ciduren benar-benar sangat menyenangkan. Kadang kami ketemu jalan buntu, sehingga harus putar balik dan eksplor lagi. Kami benar-benar puas bermain di sini.

Jika kami lurus terus, akan ada satu ruangan yang luas. Untuk melewatinya juga terbagi 2, lewat atas atau bawah. Lewat bawah memang mungkin, namun bakal capek nunduk. Jadilah kami lewat atas. Setelah melewati ruangan ini, kami dihadang “Ninja Warrior”, begitulah kami memberi nama lokasi ini. Daerahnya tidak terlalu luas, daerah ini berada diatas, karena ada jurang ditengahnya– tidak terlalu dalam memang, tapi tetap saja seram. Jadi, kondisinya adalah jalan yang terbelah dua dengan jurang di tengahnya. Menurut titah Sang Komandan Besar Toleb, kami tidak boleh lewat jurang. Hanya ada dua pilihan, kanan atau kiri. Gugup, itu pasti. Apalagi Kak Toleb belum apa-apa sudah berpesan, “Kalau jatuh kaki duluan.”, sangat menyebalkan. Semakin membuat kami gugup. Baiklah kami pasti bisa.

Duhai saudaraku, ternyata pepatah “Don’t judge a book by it’s cover.” benar adanya. Gaplek si misterius lah yang pertama kali berhasil melewati Ninja Warrior. Dia yang paling pendiam ternyata paling berani dan dia pilih sebelah kiri. Kemudian Bagong terseok-seok melewati rintangan dari sebelah kanan. Komar, mengikuti pilihan Gaplek, lewat kiri. Lalu Jigur yang jangkung memilih jalan tengah. Bagaimana? Dia letakkan kakinya di kiri batu dan tangannya di sisi kanan. Kemudian bergerak layak kepiting, menyamping. Berhasil lah dia tanpa ada 1 menit. Prusik mengambil tantangan itu, walaupun pelan, dia berhasil. Tiba saatnya giliran Otu yang dari tadi ketakutan. Otu mencoba lalu mundur, begitu terus. Sampai Kak Toleb bilang ini yang terakhir, barulah Otu berusaha tenang. Harus bisa, begitu pikirnya. Akhirnya berhasil juga dia sampai ke ujung. Sungguh Otu sangat terharu atas pencapaiannya. Ini pengalaman yang menegangkan. Dari sini Otu simpulkan tidak ada yang perlu ditakutkan. Stay calm, pasti bisa. Terakhir, Kak Toleb melewatinya dengan tenang.

Perjalanan dilanjutkan, sama seperti sebelumnya, sama menyenangkannya. Sampai akhirnya kami menemui jalan buntu. Bukan buntu sebenarnya, tapi lagi-lagi tertutup longsoran. Ini adalah jalan bawah. Ternyata ada jalan di bagian atas, tapi kecil. Kami melewatinya dengan mudah. Rupanya kami sudah mulai terlatih. Lalu sampailah kami di ruangan yang tidak terlalu lebar. Tingginya tidak memungkinkan untuk berdiri, tapi cukup untuk kami duduk. Di salah satu sisinya ada “Grand Canyon”. Lagi-lagi kami menamainya dengan kreatifitas yang luar biasa, gara-gara bentuknya mirip Grand Canyon. Kak Toleb yang mengeceknya. Dia turun, tapi ternyata sama saja, jalan itu pun tertutup longsor. Jadilah kami memutuskan untuk kembali. Di jalan pulang, kami ambil jalan yang salah. Sebelumnya kami lewat dari atas meluncur ke bawah, namun untuk memanjat lagi itu tidak mungkin, terlalu licin dan berlumpur. Jadi, kami jalan lewat bawah. Tanpa disengaja kami menemukan Sumur, begitu namanya oleh Kak Toleb. Satu persatu kami disuruh masuk Sumur, tapi dengan kepala tetap di atas air. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan. Jalan yang dihadapi makin lama makin sempit, akhirnya kami merayap, namun ternyata jalurnya tidak memungkinkan kami untuk maju. Jadi kami harus putar balik, kembali ke Sumur. Mundur lagi, ternyata ada satu lubang horizontal di sisi jalan, kami melewatinya tadi. Melewati lubang itu, kami merayap kembali, kemudian agak tinggi, lalu merayap lagi, sampai bertemu satu titik yang benar-benar sempit. Untungnya masih bisa kami lewati. Setelah melalui jalan sempit ini, kami muncul di jurang Ninja Warrior tadi. Dari sini kami jalan pulang, menuju di mana tali kernmantel digantungkan. Bagian hebatnya adalah kami tidak tersesat. Entah kenapa feeling menebak bekerja dengan tepat. Sesampainya di tali kernmantel, kami bergantian naik. Tapi Kak Toleb tidak ikut naik, ingin merasakan eksplor bersama semua orang katanya. Padahal menurut Pinut Kak Toleb hanya ingin menghabiskan waktu untuk tidur di dalam gua sembari menanti kloter 1 naik dan kloter 2 turun, meskipun begitu keputusan Kombestol sangatlah keren.

Pukul 01.53, Jigur sampai di permukaan. Ciduren tidak memberikannya kesempatan untuk tidur. Syukurlah.

Pukul 02.20, Otu naik dengan satu lagi masterpiece-nya. Corak yang berbeda, tapi sama luar biasanya.

Pukul 02.46, Bagong makin berbahagia. Bertambah lagi batu kenalannya. Walaupun di bawah sana misuhnya tak tertahan lagi. Kembali seperti semula, tiap mulutnya terbuka dia misuh.

Pukul 03.18, Prusik mengusaikan pertaruhannya dengan tali kernmantel kami yang gagah.

Pukul 03. 45, Gaplek naik. Masih dengan aura misteriusnya.

Tiap siswa kloter 1 naik, kami langsung berganti pakaian. Hingga orang ketiga kloter 1 naik, barulah siswa kloter 2 mulai memasang set di tubuhnya.

Pukul 04.11, Bilung turun. Diawali dengan kekhawatiran autostop yang macet. Dia kembali melebur dalam gelapnya gua.

Pukul 04.27, Kak Beruk turun.

Pukul 04.40, Pinut mempersiapkan hati, mempersiapkan ruang kosong. Karena akan butuh ruang untuk perasaan itu lagi. Di akhir nanti, tanpa disadarinya hatinya telah penuh oleh perasaan itu, tak terbendung.

Pukul 05.08, Mili turun. Kali ini mungkin dia akan menikmati udara gua.

Pukul 05.56, Gemot turun ditemani guyuran air hujan. Kali ini, hal baru apakah yang akan dia dapat di dirinya? Oh, sepatu boots yang memberat berkat kumpulan air hujan.

Pukul 06.35, Wakwan turun, tapi sebelumnya ia harus membereskan flysheet yang hampir lepas karena serbuan angin dan hujan. Semoga menyenangkan. Memanglah menyenangkan. Itu bisa kau lihat nanti di senyumnya saat bercerita tentang perjalanan mabim ini pada saudara kami di divisi lain.

Jadilah kloter 2 ditemani oleh couple senior cavers kami, Kak Beruk dan Kak Toleb. Bilung yang turun lebih dahulu dibuat terkaget-kaget akan Kombestol kami tercinta. Bilung agak panik saat mencapai friksi karena kondisi sunyi dan remang-remang cenderung gelap. Ia mencoba meminta pertolongan Kombestol, memanggil namanya namun hanya keheningan yang menyambutnya. Kalian pasti sudah tahu ke mana perginya Kombestol. Alam mimpi. Bilung yang tangguh mampu memijakkan kakinya ke bebatuan gua tanpa bantuan Kombestol. Kak Beruk turun kemudian. Akhirnya, ya, Lung, kau ada yang menemani di sana.

Kloter 2 dipandu oleh Kombestol yang telah memahami isi Ciduren dengan baik. Sungguh benar-benar bahagia ia mengerjai kami. Mengarahkan kami ke jalan yang buntu dengan kondisi jalan yang licin berlumpur dan harus merayap (Kak Beruk juga kena jebakannya), hingga tingkah isengnya terhadap Wakwan. Mereka berdua sungguh menggemaskan memang. Namun Kombestol tidak mengerjai kami dengan mengarahkan ke Grand Canyon yang juga jalan buntu itu, katanya waktu limit. Sangat disayangkan.

Di sumur juga seru. Bahagia sekali Pinut menemukan genangan air sebanyak itu. Pinut sangat deg-degan tapi nekat melanjutkan untuk masuk duluan (Berulang kali bilang ke diri sendiri, jangan panik.), mengecek kondisi di ujung yg ternyata menyempit sehingga tidak mungkin dilewati. Yah, Pinut kecewa, bung. Lalu semuanya– kecuali Bilung karena dia sedang istimewa– menjajal satu persatu akan ke mana kah lorong itu berujung.

Di Ninja Warrior? Oh, tentu sangat berkesan. Tidak disangka di dalam gua terdapat hidangan yang menantang seperti itu. Bikin sebelah kaki gemetaran, Boi. Kisahnya sudah Pinut tuliskan secara singkat di Diary 148 (Dibaca ya :D). Sangat bikin geregetan pokoknya.

Dan jangan lupakan pula “meteor-meteor” yang dihujankan oleh Kak Beruk kepada kami semua. Terima kasih atas ajaranmu, Kadiv.

Hari Keempat, tanggal 3 Februari 2018, Persiapan Pulang

Kloter 1 menghabiskan waktu untuk tidur. Walaupun sempat hujan, akhirnya tidur lagi.

Pukul 12.10, Kak Toleb tiba di permukaan.

Pukul 12.38, Bilung berbaur dengan kloter 1.

Pukul 13.03, Mili tiba.

Pukul 13.20, Pinut penuh, baik perasaan maupun pengalaman. Belakangan diketahui bahwa Pinut jatuh 2 kali di Ninja Warrior. Dia kuat .

Pukul 13.30, Kak Beruk bergabung dengan manusia permukaan.

Pukul 13.55, Gemot tiba dengan dirinya yang telah ter-upgrade.

Pukul 14.12, Wakwan mewakili farewell kami pada Gua Ciduren. Selamat Wakwan, sweeper kesayangan. Wakwan menjadi bijak setelah selalu menjadi sweeper. Ia berkata betapa sunyinya gua dan sungguh manusia membutuhkan manusia lain dalam kehidupan mereka. Ini membuat Pinut penasaran bagaimana rasanya jadi sweeper. Lain kali harus coba!

Saat Pinut melewati tembok pembatas Ciduren, yang terlihat adalah Bagong, Prusik, serta Komar yang sedang memasak. Kloter 1 bersama Kombestol telah cleaning sebagian besar camp, sehingga yang kami lakukan berikutnya adalah makan, cek alat, dan dilanjutkan moving ke rumah Pak Eman. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan dengan keluarga Pak Eman, kami moving ke sungai untuk membersihkan alat.

Pukul 17.00, semua orang sibuk bagi tugas membersihkan alat. Momen itu sangat seru. Di hamparan sungai dengan arus yang cukup deras itulah alat-alat kami bersihkan, wearpack bebas dari lumpur, kernmantel yang berjasa dimanjakan, Bagong merasakan indah dan segarnya mandi (serius, Bagong jadi yang paling wangi selepas itu), hingga Wakwan yang berulang kali berkata ORAD cihuy!

Selesai membersihkan alat, kami moving ke Linggih Alam. Kami berkenalan dengan kakak-kakak di sana dan mengobrol tidak terlalu lama karena angkot yang akan membawa kami pulang telah tiba. Saat itu kira-kira hampir Isya atau mungkin saja sudah lewat Isya, entahlah. Kami  tiba di Posko dengan selamat dan bahagia pukul 22.00 WIP, sudah jam malam. Jadi yang kami lakukan adalah meletakkan alat, berbincang sebentar dengan Kak Mupeng yang menyambut kedatangan kami, dan menyapa Papi yang muncul kemudian. Selepas itu langsung lah kami berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing, takut dimarahi Pak Satpam karena sudah lewat jam malam.

 

Demikian perjalanan mabim caving 2018. Semuanya hebat, berkesan, tergores dalam di hati. Semangat saudaraku sekalian! Kita harus sering jalan, harus. Kita juga harus adakan ekspedisi. Suatu hari nanti.

 

Penuh cinta,

STAPALA DJAIA !!!

CAVERS… KITA HARUS EKSPLOR !!! ULULULULU

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*