Mengejar Sang Rinjani Kecil di Jawa Barat

Aktivitas luar ruang khususnya olahraga berlari akhir-akhir ini semakin digandrungi baik kalangan pelajar hingga yang telah berusiakan master. Bahkan antar kampus, antar instansi/ antar perusahaan juga saling berlomba untuk menunjukan aktivitas dan eksistensi mereka. Dari event lari yang diselenggarakan dalam kota hingga event tahunan yang sangat bergengsi di luar kota tak satupun terlewatkan. Dari lari on road, kini para pelari semakin meningkatkan kemampuannya untuk menembus batas ke arah trail running/ mountain running yang memadukan unsur berlari dan mendaki ke medan yang jalurnya dinamis.

Sama seperti kompetisi yang saya ikuti pada 8 April 2018 lalu, kebut gunung series tingkat Nasional yang dilaksanakan di Gunung Guntur, Kab. Garut, Provinsi Jawa Barat. Gunung Guntur dengan ketinggian pada puncak tertingginya dari keempat puncak yang ada yaitu 2.249 mdpl, tetapi gunung ini terkenal dengan sebutan “Rinjani kecil” nya sebab jalur untuk menuju puncak tak ayalnya seperti summit di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat dengan gunungan pasir yang serasa tak berujung. Dari Jakarta saya butuh waktu kurang lebih 6 jam untuk sampai di meeting point pengambilan race pack lari, verifikasi registrasi dan cek kesehatan dari pihak panitia. Para peserta yang mengikuti kompetisi ini sangat beragam dari usia 17 tahun yang masuk dalam kategori open hingga yang usianya lebih dari 40 tahun dan masuk kategori master baik perempuan maupun laki-laki. Pada kesempatan ini saya tertantang untuk memilih kategori 20 km dari kedua pilihan yang ditawarkan, sedang pilihan lainnya adalah 35 km dengan melintasi beberapa puncak pada bagian Gunung Guntur.

Perlengkapan yang akan saya bawa saat kompetisi cukup lengkap demi faktor safety. Tas running dengan water bladernya, trekking pole, juga topi, seperti sudah menjadi kebiasaan ketika mendaki maka bekal snack yang saya bawa adalah madu, coklat, roti mini, juga permen. Tak lupa carbo-loading / pemuatan karbohidrat sebagai strategi pemenuhan energi pra event saya lakukan H-24 hingga 48 jam kompetisi berlangsung agar otot menyimpan glikogen ekstra seperti nasi, sayur, buah-buahan dan tidur yang cukup.

Kami akan dilepas tepat pukul 7 pagi dari halaman Kantor Bupati Garut dan berlari hingga 6 jam kemudian yaitu pukul 1 siang dengan start dan finsih line di koordinat yang sama. Cuaca yang sangat cerah bila tidak dimanfaatkan berlari ke gunung, meski sempat semalaman diguyur hujan deras, saya berdoa semoga Yang Maha Kuasa merestui kami para peserta untuk menyelesaikan race.
Kira-kira 5 km jarak dari start line ke pintu pendakian, tidak sejauh yang saya bayangkan sebelumnya. Awal traill running akan dimulai dengan disuguhkan jalur tambang pasir dan pemandangan tebing yang masih didominasi oleh tanah yang mulai menanjak dan vegetasi kurang. Hingga 1 jam berlari saya baru bertemu dengan water station (WS) 1 yang disediakan oleh panitia. Disana disediakan air mineral, isotonic, buah pisang untuk penambah tenaga. Tracking menuju target selanjutnya dengan jarak tempuh 8,5 km dan elevasi 1350 mdpl mulai terasa vertikal hingga kemiringan 60 derajat yang jalurnya berundak dan berbatu besar.

Ketika menemui track berbonus lumayan landai maka saya berusaha untuk konsisten berlari, sedang selainnya berupa power climb seperti mendaki dengan kekuatan penuh dan konstan. Setelah melewati jalur tepi sungai di rimba, sampailah saya pada titik WS 2 dan pada pos ini para panitia memberitahu kami untuk membawa bekal lebih banyak mengingat perjalanan menuju puncak 1 Gunung Guntur masih sangat jauh.

Dua jam perjalanan akhirnya saya bisa keluar dari rimba dan menemukan pos camping di padang sabana. Perjalanan menuju check point 20 km terlihat jauh dari mata dan lemas pada dengkul. Padang sabana yang jalurnya didominasi oleh pasir adalah tracking tanpa ampun, para peserta mendaki dengan banyak mekanisme yang ada, mendaki biasa dibantu satu buah trekking pole bahkan ada yang memakai dua buah trekking poles, merangkak bahkan power climb dengan sedikit berlari. Target saya pada pukul 10.30 sudah menggapai ketinggian 1.878 mdpl tersebut, terlewatkan karena ternyata pasir-pasir yang kami injak mudah runtuh dan membuat saya gampang terperosot. Satu jam rupanya tidak cukup memaksakan diri menembus puncak yang terlihat dekat oleh mata, namun rasanya tanjakan pasir ini tidak akan lekang dengan secepat kaki dan nafas dipaksakan menembus. Dalam perjalanan saya menyaksikan orang-orang hebat seperti sekelompok kakek yang berusia lanjut dan memotivasi diantara mereka juga menularkannya pada kami.

Ujung dari gundukan ini bukanlah apa yang dicari rupanya, masi ada jalur tanah menanjak ke arah puncak, saya semakin semangat berlari ke arah tersebut dengan harapan disana adalah check point (CP) untuk kategori yang saya ikuti. Akhirnya saya sampai di puncak 1 Gunung Guntur pada pukul 11 siang, tapi sontak terkaget karena sama sekali tidak melihat panitia disini, itu tandanya belum posisi check point! Untuk menuju CP harus melewati kawah melingkar sekitar 1 km dengan jalur hanya dilewati oleh seorang saja. Saat mengelilingi kawah tersebut kabut tiba-tiba turun dan terasa lebih dingin daripada saat menanajak sebelumnya. Akhirnya yang menjadi target berhasil saya gapai, tiba saatnya saya untuk mengambil foto diri dan sejenak meluruskan kaki sambil mengisi tenaga kembali dengan bekal yang saya bawa. Apa yang saya prediksi betul terjadi pada CP tidak disediakan air minum oleh panitia dan saya lihat peserta yang tiba turut menanyakan dan merasa dehidrasi. Itulah keuntungan apabila kita sedia payung sebelum hujan dengan membawa perbekalan yang sesuai kebutuhan.

Pukul 11.20 saya baru akan beranjak dari CP kembali ke WS 2 / kembali turun, jalur yang disuguhkan untuk kami pulang begitu luar biasa bak lautan pasir yang cocok untuk dimainkan secara ski dengan bermodal sepatu traill dan tracking poles. Ternyata menempuh jalur berpasir ini tidak sesuai harapan, kenyataannya perlu secara perlahan dan atri untuk bergantian melaju turun, juga faktor safety mengingat mudah runtuhnya batu dapat menimpa peserta lainnya. Diujung jalur tersebut saya sempat berhenti sejenak untuk menuang pasir dan kerikil yang mmenuhi sepatu saya. Sesampainya pada pos basecamp, saya kembali berlari dan fokus menuruni tangga tanah dan batu ke target selanjutnya sambil diliputi asumsi akan cukupkah waktu tempuh saya masukah dalam kurun cut of time. Water station (WS) 2 berlanjut ke WS 1 telah terlampui meski sempat tersesat karena marshall yang kurang jelas, saya masih terus berusaha untuk mendapat medali finisher ketika almanak waktu terdeteksi pukul 12.30 WIB

saya masih terus berusaha untuk mendapat medali finisher.Beruntungnya saya bertemu dengan dua orang dokumentator yang menginformasikan bahwa cut of time (COT) di tambah 1 jam dari kesepakatan awal dan itu tandanya masih adanya waktu 50 menit untuk saya mengejar finish line. Semangat kembali membara meski kaki terasa berat untuk dipaksakan jogging menuju kantor Bupati sambil sayup-sayup mengabarkan kepada peserta yang melintas bahwa deadline hingga jam 14.00 WIB. Kaki semakin lincah berlari menjelang 300 m garis finish, hanya rasa syukur yang terucap ketika tiba pada titik akhir dengan selamat dan membawa pulang medali.

Sebuah perjalanan yang memberikan pengalaman berharga bagi yang terlibat, bahwa apapun yang terjadi harus diselesaikan apa yang telah dimulai karena kita tak tahu akan ada keajaiban apa yang akan diperoleh. Juga percayalah dirilah untuk menembus limit dan membawa berbagai bekal yang dirasa perlu, karena siapapun dari kita tidak akan tahu apa yang terjadi di alam.Namun, berita duka harus melintas di hadapan kami bahwa seorang bapak yang wajahnya pucat dan badannya terbujur lemas di hutan yang saya temui dalam perjalanan dari WS 2 menuju WS 1 harus berpulang ke Rahmatullah. Se

bagai pelajaran bagi kita bahwa kegiatan yang berisiko sangat tinggi ini memerlukan kesiapan fisik juga mental yang baik, dibutuhkan latihan panjang sebelum sampai ke tahap traill running. Juga menjadi perhatian bagi para penyelenggara event bahwa selanjutnya perlu diberikan kualifikasi mulai dari registrasi sebagai preventif juga armada kesehatan yang bisa men-sweeper peserta dan ditempatkan pada titik-titik kritis. Selain itu, alangkah baiknya pada check point atau tidak jauh dari itu disediakan rescue air minum mengingat dehidrasi adalah sesuatu yang riskan. Sampai jumpa pada kesempatan yang lebih baik selanjutnya!

Salam lestari! Meiliana TURUS Eka 1043/SPA/2014

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*