the sindoro through pass ( part II )
Jumat, 10 Oktober 2008
Jam ditangan saia menunjuk pukul 05.00 WIB, saia langsung bangun ambil tayamum dan shalat subuh. Keluar dari tenda suasana sudah terang tapi matahari belum tampak. Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu terlihat gagah menyambut pagi. Pagi ini yang beraksi adalah Chef Slamet, kami membuat pancake special ala sindoro atau dengan nama baru sebut saja trangia cake ( dari mana juga tuh nama…??? )
Sarapan trangia cake dengan milo hangat beres langsung packing. Sebenarnya ada 2 opsi untuk perjalanan hari ini, yaitu pertama kami free kepuncak, barang semua kita tinggal di Pos III lalu turun kembali via kledung dan yang kedua kita turun via tambi dengan konsekuensi semua barang kita bawa. Akhirnya tim mutusin untuk turun via tambi saja.
Pukul 07.00 WIB kami memulai perjalanan ke puncak. Dari Pos III ini jika kita liat kearah puncak memang hanya terlihat satu puncak dan kami mengira itulah puncak Sindoro. Setelah packing selesai, berdoa untuk keselamatan dan langsung kami melanjutkan perjalanan. Jalur dari Pos III ini adalah melewati punggungan terjal berbatu agak terbuka yang terus menerus menanjak. Sambil sesekali beristirahat mengatur napas kami terus berjalan menyusuri punggungan berbatu ini. Pukul 07.30 WIB kami tiba disebuah shelter datar yang dapat dibuat untuk tempat mendirikan tenda. Akhirnya apa yang saia pikirkan terjadi juga. Ternyata puncak yang kami lihat dari Pos III tadi pagi hanyalah puncak palsu. Kami sudah sampai di atas puncak palsu yang kami lihat tadi pagi dan masih ada punggungan panjang di depan kami yang masih harus kami lewati untuk menuju puncak asli Sindoro.hufff…………..!!!
Pukul 09.00 WIB kami tiba di padang edelweiss. Di kanan kiri jalur banyak terdapat edelweiss yang pada saat itu belum berbunga. Dari Pos III menuju puncak vegetasi yang kami temui hanya rumput, edelweiss, cantigi, dan pohon lamtoro. Beberapa saat kemudian kami tiba di hutan lamtoro. Jalur di hutan ini berbatu menanjak yang pada saat itu basah, mungkin tadi pagi di sekitar puncak turun hujan. Setelah terus menanjak melewati punggungan akhirnya pukul 10.00 WIB kami tiba di puncak Sindoro 3153 mdpl. Alhamdulillah Ya Allah telah mengijinkan kami berlima menjejakkan kaki disini…..!!!
Puncak Sindoro berbentuk kawah yang sudah mati. Kawah mati itu membentuk 2 buah lapangan kecil bertingkat. Saia, Pak Slamet, dan Sentot sempat turun ke kawah mati itu. Sambil berfoto ria di kawah mati kami menikmati suasana hening dikawah mati itu. Suasana semakin hening dan agak terasa “gimana gitu” ketika tiba-tiba kabut turun dari puncak menuju kawah mati sehingga saia gak bisa melihat ke arah puncak.
Ketika kesombongan kami tertampar
Di puncak kami sempat masak mie untuk sekedar makan siang. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB sangat tidak mungkin untuk kami turun dan mengejar agar dapat shalat jumat di desa dibawah sana. Akhirnya kami memutuskan untuk shalat di puncak hanya berlima saja. Pak dosko menjadi muadzin, dan Pak Slamet menjadi khotib sekaligus imam. Kami shalat dengan khusuk di Puncak Sindoro, di ketinggian 3153 mdpl di bawah terik matahari yang kadang tertutup oleh kabut. Memang benar sebenarnya kita ini adalah makhluk yang sangat kecil, gak ada apa-apa nya dibanding dengan kebesaran Sang Pencipta yang sedang kami lihat saat itu. Ketika bumi dihamparkan ( kami bisa melihatnya sepanjang cakrawala ) ketika gunung ditancapkan ( kami sedang minginjakkan kaki disini ) dan ketika langit ditegakkan ( kami merasa sangat dekat dengan langit itu ). Sungguh alangkah bodohnya orang yang masih menyombongkan diri di bumi ini. ( saia gak tau sah gak shalat kami ini, yang saia tau kami masih ingat untuk selalu bersyukur atas karunia dan akan selalu mengagumi kebesaranNYA. Ya Allah terimalah ibadah kami ini…..)
Perjalanan turun
Pukul 12.20 WIB kami bersiap untuk turun. Setelah repacking, foto bersama, makan buah pear yang dibawa Sentot ( sayang lu Cuma bawa 1 tot ) dan berdoa kami lanjut jalan menyisir sisi utara puncak untuk turun via tambi. Dari kami berlima belum ada yang pernah ke Sindoro, sehingga kami harus mencari-cari jalur yang lewat tambi itu. Di sisi utara puncak sindoro ada beberapa lapangan / alun-alun kecil. Kalau gak salah ada sekitar 3 buah alun-alun kecil disana. Alun-alun yang paling barat paling bersih dari batu-batu dan mungkin alun-alun yang ini dijadikan sebagai upacara bendera karena ditengahnya terdapat tempat bersemen untuk tiang bendera. Sebenarnya salah satu dari 3 alun-alun ini adalah makam kyai santri tapi kami gak tau yang mana yang dimaksud.
Di sebelah utara alun-alun yang ada tempat bendera nya tadi ada sebuah tugu putih. Di bawah tugu itu terdapat jalur menuju ke bawah. Kami akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur itu saja. Dan ternyata benar, jalur itu adalah jalur pendakian via tambi. Jalur via tambi ini benar-benar menyiksa lutut. Dari tugu tadi sampai kebun teh di bawah jalurnya terus saja turun tajam melewati punggungan terbuka dengan medan tanah berbatu kerikil yang sangat-sangat licin. Saia sempat terjatuh karena pohon yang saia jadikan tumpuan tangan ternyata rapuh dan patah.
Untuk informasi jalur tambi ini, dari kebun teh bawah sampai puncak tidak terdapat pos-pos yang jelas karena medannya memang lereng yang terjal. Pukul 15.00 WIB kami tiba di pos kebun teh, sebenarnya pos ini adalah pos para pekerja teh untuk mengumpulkan teh hasil panen. Pos ini beratap seng tanpa dinding, berlantai semen, dan cukup luas. Kami terus saja turun mengikuti jalan setapak di kebun teh tambi ini untuk menuju jalan raya.
Pukul 16.15 WIB kami sampai di jalan raya di Dusun Sikatok, Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Disini kami menunggu angkot untuk menuju Ngadirejo, Temanggung tapi lama nunggu sang angkot gak muncul juga. Mobil pickup lewat, jadilah kami stop tuh mobil untuk mengantar kami menuju Ngadirejo. Pak sopir minta Rp 50.000,- uang sewa, ditawar gak mau juga. Akhirnya jadilah dengan Rp 50.000,- pickup mengantar kami ke Ngadirejo.
Pukul 17.00 WIB kami tiba di pertigaan Ngadirejo. Setelah shalat ashar di masjid dekat pertigaan kami langsung nyari bus jurusan Parakan, Temanggung. Dengan ongkos Rp 3.000,- per orang kami naek minibus sampai pertigaan Parakan. Pukul 17.45 WIB kami tiba di Parakan, kata mase yang ada disana bus menuju Magelang akan lewat pukul 19.00 WIB jadi masih 1 jam lebih kami harus menunggu. Perut gak bisa kompromi, cacing-cacing sudah pada demo minta makan. Kami jalan nyari warung makan dan Si Bramus nemuin warung Bakmi. Jadilah tuh warung tempat makan kami berlima. Capjay, mie godog, nasi goreng jadi menu dinner kami setelah sampai di peradaban. Pukul 18.45 WIB kami kembali ke pertigaan yang tadi tapi kata mase yang tadi juga bus yang kami tunggu sudah lewat beberapa saat tadi ( huffffff……kampret!!!).
Dengan nasehat bapak penjual martabak kami disuruh naek bus jurusan Secang. Dari pertigaan Parakan kami naek bus jurusan Secang dengan ongkos Rp 5.000,- per orang. Kami turun di pertigaan Secang lalu nunggu bus jurusan Magelang. Bus datang juga dengan ongkos Rp 3.000,- per orang kami tiba di Terminal Tidar Magelang.
Ba….Da….La….!!! ternyata bus jurusan Magelang Jogja habis sudah, yang ada hanya angkot plat hitam dengan banderol Rp 20.000,- untuk sampai ke Jogja. Jika kami berlima naek angkot plat hitam itu kami harus ngluarin duit Rp 100.000,- padahal kas tim tinggal Rp 70.000,-. Jadilah kami nginep di Terminal Tidar untuk malam itu dengan harapan dapat naek bus jurusan Jogja esok paginya dengan ongkos yang sangat wajar tanpa pengecualian Rp 8.000,- per orang. Malam itu kami ditemani Boyo “839/SPA/2008”, sambil membawa nasi goreng dan biscuit, yang nota bene memang rumahnya daerah Magelang.
Sabtu, 11 Oktober 2008
Pagi telah tiba, bus juga udah ada, kami berlima pamit sama Boyo untuk melanjutkan perjalanan pulang. Dengan ongkos Rp 8.000,- kami menuju Jogja. Satu persatu tim berpisah, Pak Dosko turun di Jombor, Bramus turun di Kasihan Bantul, sementara saia, Sentot, dan pak Slamet turun di Giwangan.
Sampai di Giwangan Sentot pamit untuk lanjut pulang ke rumahnya di Jogja, sementara saia dan Pak Slamet lanjut naek bus Sumber Kencono. Pak Slamet turun di Klaten, saia lanjut ke terminal Tirtonadi Solo. Ongkos Jogja-Solo Rp 8.000,-. Sampai Tirtonadi oper bus yang sama menuju Ngawi. Ongkos Solo-Ngawi Rp 10.000,-. Alhamdulillah pukul 10.15 WIB saia sampai kota Ngawi tercinta dengan selamat.
Salam rimba…!!!
sweet memories
pendakian ku 3 taon lalu....pendakian proklamasi..di hajar dobel s...sumbing dulu baru sindoro....
bo temen2 yang mo dobel s, saran ku ke sumbing aja dulu yang relatif lebih susah medannya daripada sindoro...tapi kalo abis naek sumbing, jangan merasa kapok mendaki ya.....soalnya beberapa temenkuw abis dihajar sumbing, dah ga mau lagi naek gunung dalam waktu dekat...he3..pada trauma kale...inget aja kalo medannya sindoro ga seberat sumbing...
salam rimba!!!!
me...
742
jadi kangen nih
sindoro, menu penutup 3s. Setelah Slamet dan sumbing gue n disa521 lsg menuju puncak sindoro. tp sayang ga nikmatin pemandangannya karna malem dan dah cape (maklum pendakian perdana).
sbenernya waktu itu kami bertiga, tp mail532 stelah pendakian sumbing memutuskan tdk meneruskan pendakian ke sindoro dan langsung pulang.
gmn pendapat tmn2 ttg kasus ini. apakah gue sm disa dianggap ga solider dan egois karna meninggalkan mail seorang diri dan lebih mengutamakan ambisi menuntaskan proyek 3s.