Timbunan Logistik Rusak karena Tikus - Lauser Expedition (15)

Hari ke-15, Sabtu, 8 September 2007( Kemm – Lintasan Badak )Bangun pagi-pagi kami sudah disambut dengan hujan. Hujan pagi-pagi beginilah yang membuat kami enggan untuk segera beranjak packing. Rasanya masih ingin terus menikmati hangatnya sleeping bag dan kembali melanjutkan mimpi-mimpi indah. Ada cerita menarik tentang mimpi-mimpi yang menghiasi tidur kami. Di hari-hari awal pendakian, kira-kira di 5 hari pertama mimpi kami berempat ternyata hampir sama yaitu tentang wanita. Kamipun sempat khawatir kalau-kalau mimpi basah. Pasti akan repot jadinya untuk melakukan mandi wajib.

Beres packing jam 10.00, kami langsung start jalan menuju Sungai Alas. Empat puluh menit berjalan, tibalah kami di Sungai Alas. Tinggi air kala itu tidak setinggi saat kami berangkat dulu. Saat itu cuacanya sudah cerah. Pastinya sungguh segar sekali kalau mandi di Sungai Alas ini, namun saying kami tidak punya waktu yang tepat untuk menikmatinya.

Sampai di Blangbeke, istirahat, makan snack, lalu cleaning sampah. Kemudian jalan lagi, rencana next stop adalah di Pepanji untuk makan siang. Selesai melewati padang rumput, kembalilah masuk hutan lumut. Kecelakaan terjadi lagi, korbannya adalah Gamex. Saat semangat-semangatnya jalan dengan kecepatan tinggi, kaki Gamex tersandung sulur rotan yang melintang di tanah. Keseimbangan hilang, ia terjatuh dengan posisi dengkul yang secara langsung menghantam kayu-kayu. Lutut kanan Gamex sampai bengkak. Berhenti dulu, istirahat, cek kondisi. Syukur, Gamex masih bisa untuk melanjutkan perjalanan.

Pukul 15.30 kami sampai di Pepanji, makan siang dengan sereal, hanya dikocok dengan air, ditambah coklat dan madu. Tak lupa kami mengambil simpanan logistic di sini. Alangkah terkejutnya kami menemukan paket logistic kami yang acak-acakan. Plastiknya sobek, beberapa makanan malah sudah habis. Ini kelakuan tikus. Memang paket logistic tidak kami kubur di dalam tanah, melainkan hanya disembunyikan di semak-semak. Kami hanya bisa pasrah, itung-itung amal ngasih makan tikus gunung.

Lanjut jalan lagi untuk menuju Lintasan Badak, masih dalam naungan hutan lumut dengan trek yang curam naik turun. Kali ini insiden terjadi padaku. Jalur saat itu memang mengharuskan kita untuk meniti pohon-pohon tumbang. Aku menginjak batang yang rapuh ternyata, kayunya ambrol, dan seketika tubuhku terperosok ke bawah sampai setinggi badan. Dadaku menghantam kayu kecil. Nyeri sekali. Di tengah perjalanan aku jatuh lagi, sedang berjalan cepat kakiku tersandung, tubuhku limbung dan jatuh terperosok di semak-semak. Jatuh bangun seperti itu, aku terus berjuang, semangat untuk segera sampai bawah sungguh menggelora.

Jam 6 sore aku tiba di Lintasan Badak, selisih setengah jam dengan rekan-rekan yang lain, dan malah 2 jam dari Pak Ali. Setelah menata barang-barang dalam tenda, seperti biasa kami jemur-jemur pakaian basah di atas perapian. Akupun meletakkan baju dan celana panjang basah di kayu-kayu yang kami tancapkan di atas api. Waktu makan tiba, saat sedang enak-enaknya makan, Vjay berucap, “Man, genine gedhi” (Man, apinya besar). Seketika aku menengok jemuranku. Waduh! celana dan bajuku sudah terjilat-jilat api besar itu. Langsung saja kusambar dan kuselamatkan. Namun apa mau dikata, sang api sudah berhasil membuat lubang-lubang baru di baju dan celanaku. Melihat kondisinya, ya sudah aku masukkan saja sekalian baju dan celana itu menjadi bahan bakar perapian kami. Kujadikan sebagai simbol pengorbanan dan perjuanganku di Leuser, biarkan menyatu dengan alam gunung indah ini.